Kamis, 18 Desember 2008

oi

“MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesia)”, kata Taufik Ismail, cukup membuat diriku tersentak. Mungkin karena beliau sedang geram melihat perilaku anak bangsa nan salamak paruiknyo sajo. Berbagai prestasi negatif yang telah dianugerahkan oleh masyarakat dunia kepadanya. Mulai negara terkorup sedunia, masih banyak buta hurufnya, sembrawutnya penataan kota, rentan pertikaian berunsur sara, sampai menjadi negara yang melakukan penghancuran hutan tercepat sedunia serta gelar-gelar lain yang kita sama-sama ketahui.

Goethe pernah berkata “awasi pikiranmu karena ia akan membentuk kata-kata, awasi kata-katamu karena ia membentuk sebuah tindakan, awasi tindakanmu karena ia membentuk karaktermu, dan awasi karaktermu karena ia menentukan nasibmu”. Ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di alam materi, merupakan refleksi dari apa yang terjadi di alam fikiran. Sikap egosentris, pragmatis, oportunis, dan sikap acuh tak acuh terhadap keadaan begitu kental terlihat dari tindakan-tindakan yang dilakukan anak negeri menunjukkan bahwa yang sakit bukanlah jasad / fisik tetapi fikiran (otak).


Main bola “berantam”, pulang sekolah “tawuran”, pedagang di pasar “parang- ladiang”, TNI dan Polisi “bentrok”, antrian penerima zakat “rebut-rebutan”, setiap konser musik “rusuh”, sampai mahasiswa yang notabene kaum terpelajar (orang paling lama duduk di bangku sekolahan) pun tak mau kalah. Gara-gara persoalan sepele sampai saling menghancurkan fasilitas kampus mereka. Contoh kejadian Fakutas Teknik vs Fakultas Ilmu Keolahragaan UNP kemaren, yang ternyata jejaknya diikuti oleh universitas yang lain di seluruh Indonesia. Bak manapuak aia di dulang, tapacak ka mungko sorang, bikin malu almamater saja.


Begitulah gejala-gejala yang terjadi dalam perjalanan kehidupan bangsa ini. Sudah cukup merefleksikan bahwa kerusakan alam fikiran bangsa ini lumayan parah. Apakah ini merupakan buah dari pendidikan masa lalu yang lebih menekankan pada pembangunan fisik material dibandingkan dengan pembangunan mental spiritual bangsa kita ? Ibarat seorang meng-update komputer miliknya, dengan casing baru dilengkapi dengan monitor layar datar keluaran terakhir, tapi tidak disertai dengan meng-instal-nya dengan software yang baru pula. Buat apa mengganti penampilan tampak necis di luar agar tampil seperti orang terhormat, tapi perilaku di dalam tak ikut di-update alias di-instal ulang sehingga virus-virus yang ada juga dapat disingkirkan. Pakaian hanyalah penutup luar saja, dia tidak akan bisa menutupi karakter seseorang yang dasarnya memang tidak berbudaya.


Semua hal yang terjadi ini bisa saja merupakan buah pendidikan masa lalu yang lebih menekankan pada pembangunan fisik material dibandingkan dengan pembangunan mental spiritual bangsa kita. Ibarat orang yang sibuk mengubah pakaian agar bisa kelihatan menjadi seseorang yang terhormat, tetapi perilaku dirinya sebenarnya rendah, maka apapun yang dipakaikan kepadanya akan memperlihatkan perilaku rendahnya itu, sebab pakaian hanyalah sebatas kulit luar, atribut yang kurang bisa menutupi karakter seseorang yang dasarnya tidak berbudaya.


Tapi biarlah begitu dulu adanya, menyadari semua ini sudah merupakan sebuah langkah maju untuk memperbaiki keadaan. Lihatlah sektor pendidikan yang mulai berbenah. Lihatlah kebijakan pemerintah daerah seperti kota padang lebih menekankan penanaman nilai agama dan moral terhadap generasi muda. Lihatlah mulai seriusnya pemerintah mengganyang korupsi, dan lihatlah bahwa kaum intelektual pun mulai resah melihat keadaan perekonomian negara yang belum juga membaik. Angap saja, saat ini kita semua sedang menelusuri lorong gelap yang belum tahu dimana ujungnya Sudah menjadi resiko kalau berjalan di kegelapan akan tersandung, nginjak kaki teman, panik, slah menyalahkan, dsb. Sikap optimis perlu kita kedepankan, bahwa kita semua akan menemukan cahaya di ujung lorong, yang penting tetap berusaha.


Renungkanlah 63 tahun lebih kita berjalan. meskipun kita terus ditimpa musibah, perseteruan tiada henti, kesalah-pahaman yang sering terjadi, tapi semangat kebangsaan jangan sampai luntur. Meski diberi gelar yang macam-macam, dengan jutaan saudara-saudara kita yang mencari nafkah di negara tetangga terus dilecehkan bahkan disiksa. Padahal, tanpa kehadiran pahwalan devisa ini, tidak mungkin mereka bisa membangun negeri mereka seperti sekarang ini.


Benar kalau mereka jauh melampaui kita secara fiskal, tapi dari segi kultural/budaya kita tidaklah kalah karena dibandingkan negara jiran kita lebih dahulu tercerahkan. Bahkan berkali-kali menjadi daerah jajahan nenek moyang kita (Majapahit, Sriwijaya, samudra Pasai, bahkan Minangkabau). Untuk semua, mari kita berbenah diri.

Meskipun payah tapi menjadi orang Indonesia, hidup begitu bebas dan merdeka. Semua bisa mengekspresikan dirinya seluas mungkin. Kemanapun mau pergi silahkan karena komunikasi mudah, semuanya menggunakan bahasa Indonesia yang sama dari sabang sampai merauke, yang beda cuma dialeknya saja. Tidak seperti tetangga yang lokasinya saja yang di timur tetapi baju budayanya western walaupun orangnya semuanya timur tapi bahasa bukan lagi bahasa ibunya, semua idiom kalau tidak di-western-kan berarti tidak modern.


Banggalah menjadi orang Indonesia, masih bisa hidup senang meskipun kehidupan ekonomi semrawut. Disini musik kita menjadi tuan rumah, disini masakan kita menjadi tuan rumah, disini kelakuan kita yang salamak paruik menjadi tuan rumah, kemanapun wajahmu kau palingkan yang kau lihat Indonesia dengan segala ekspresinya.


Disini teh talua, makan lesehan, rendang, bubur ayam, ketoprak, sampai tempe bacem pun ada. Dari manusia zaman batu sampai manusia ultra modern bisa kita jumpai. Ada ribuan suku dan budaya semua tumlek menyatu di sini dan kalau kita sapa semua bicara dalam bahasa yang sama yakni Bahasa Indonesia.


Itulah alasan mengapa:

Aku Tetap Bangga menjadi OI (ORANG INDONESIA).


13 Desember 2008

Sekber Air tawar

Tidak ada komentar: