Jumat, 01 Agustus 2008

Tidak Selamanya Mengalah itu Berarti Kalah

Tiba-tiba aja aku teringat masa-masa kelas satu SLTP eh… salah Pondok Pesantren (Ponpes) maksudku sekitar 14 tahun yang lalu. Namanya hidup di Ponpes tentu semua harus dilakukan sendiri alias serba mandiri. Mulai bangun sendiri, urus makan sendiri, nyuci sendiri, pokoknya semuanya harus sendiri tanpa bantuan Ortu lagi. Awalnya rada-rada kaget sih, kenapa tiba-tiba saja semua harus “urus sendiri”, aku pun bingung kala itu. Tapi, kebingungan ini dapat dinetralisir dengan melihat kondisi yang ada di sekitar yakni teman-teman se-kamar aja bisa, mengapa aku gak bisa? Ya … khan ?!

Minggu-minggu pertama pengalamanku di Ponpes kujalani dengan sangat tertatih-tatih. Bagaimana tidak, bangun harus jam setengah lima pagi tiap hari, kalo gak mau bangun ya pasti basah. Maksudnya James Bond (gelar yang kami berikan pada Ustadz Jamri wali kamarku kala subuh) akan keluar dari markasnya menenteng pistol air yang siap ditembakkan pada santri-santri nakal and badung tak mau pergi sholat subuh.

Di Ponpes ku santri-santrinya dapat di bagi menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah santri yang hobinya mandi sebelum waktu subuh masuk (takut kalo abis subuh antrian akan sangat panjang di kamar mandi). Kubu kedua yakni santri yang mandi habis tadarusan di mesjid atau di kamar masing-masing (dengan prinsipnya “asiknya mandi rame-rame walaupun antri sampai setengah jam). Tapi aku bukanlah anggota dari kedua kubu di atas. Eiiit . . . Jangan bilang aku gak mandi-mandi ya.

Aku, fajri, dan iqbal (bukan nama sebenarnya takut mereka marah kalo dicantumkan) adalah sahabat karibku kala itu. Teman sekamar dengan lemari bersebelahan satu dengan satu yang lainnya, berkomitmen bersama untuk mengalah untuk tidak ikut-ikutan memperpanjang antrian di kamar mandi, sesuai dengan wajangan Kiai Pimpinan Ponpes waktu penyambutan santri baru bahwa kami harus saling tolong menolong, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi . . .

Berlandaskan poin mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi inilah sehingga kami tidak mau masuk pada dua kubu di atas. Kami meyakini bahwa dengan berkurangnya peserta antrian di kamar mandi akan meringankan sedikit beban kawan-kawan setidaknya, he. he. . . Padahal kami sebenarnya agak malas bersaing sama kakak-kakak kelas yang kadang nguji-nguji keramahan kami pada mereka. Karena di kamar mandi rata-rata junior yang antri akan merasa risih juga apabila ada kakak kelas tiga berada di nomor antrian berikutnya. Biasanya akan ditawarkan dulu pada mereka kalau mau lebih dulu, dan rata-rata mereka dengan mengucapkan terima kasih dan langsung mengambil tawaran yang kami berikan. Pada posisi itu mungkin keikhlasan dalam diri sangat diuji, apalagi gara-gara basa-basi bisa berakibat terlambat datang masuk kelas.

Ternyata pengalaman yang sama juga dialami sohib-sohibku ini. Setelah berdikusi tentang bagaimana strategi serta taktik kita memenangkan persaingan tetap mentok pada tembok keramahan serta basa-basi terhadap senior, tak peduli apakah mandi subuh maupun mandi di pagi hari. Akhirnya, kami sepakat mengalah serta mengikhlaskan, untuk mendahulukan teman-teman bahkan seluruh santri yang ada di Ponpes untuk mandi, baru kami bertiga yang menutup jadwal mandi pagi pada setiap harinya.

Jadi kami tidak lansung mandi habis tadarusan, bisanya kami langsung makan pagi di ruang makan santri sekalian menonton berita pagi atau main bulu tangkis dan kadang-kadang jalan-jalan keluar Ponpes lihat aktivitas penduduk yang rata-rata pergi ke sawah atau lading. Terus balik ke asrama untuk siap-siap pergi ke sekolah, kalo ada PR yang belum kelar kami selesaikan di lokal tercinta. Bisa di katakan bahwa kami orang pertama membuka pintu kelas tiap paginya.

Tepat jam 09.30 WIB bel istirahat berbunyi, buruan balik ke asrama untuk ambil perlengkapan mandi. Waktu yang 15 menit inilah kami manfaatkan mandi kadang masih sempat untuk mencuci pakaian. Kamar mandi yang begitu besar hanya milik kami bertiga tanpa antri dan basa-basi. Walaupun kadang-kadang juga ada cemooh yang datang mengatakan “Ada santri yang pergi sekolah tanpa mandi, iih… jorok”. Hal itu tidak kami tanggapi karena mandi pada waktu istirahat pagi dapat menghilangkan rasa ngantuk saat belajar sampai jam istirahat siang, plus tanpa ada lagi persoalan air macet atau mengucur kecil, ya khan.

Persoalan mengalah ini, tidak hanya kami lakukan pada waktu mandi saja, sector menjemur pakaian pun kayaknya membutuhkan strategi dan taktik yang jitu. Kenapa tidak, dari 800 santri yang mondok di Ponpes tentu akan sering terjadi kehilangan pakaian saat di jemur. Kehilagan pakaian di Ponpes kami ada yang bersifat sementara mungkin kerena terbawa oleh santri lain, atau lupa tempat dimana menjemur tuh pakaian, atau memang lalai sehingga berminggu-minggu masih ada di jemuran tapi dibilang hilang pada teman-teman. Kalau tiga ketegori di atas biasanya pakaian akan kembali pada pemiliknya.

Tapi juga ada sifatnya permanen alias hilang beneran, biasanya memeng sering ada tangan-tangan jahil yang sengaja atau berminat sekali pada pakaian yang notabene bukan miliknya. Biasannya diambil oleh pihak luar Ponpes yang kadang-kadang sering mondar-mandir di lingkungan kami. Karena namanya Ponpes siapa saja boleh berkunjung, dan sering juga tertangkap oleh santri anak-anak penduduk sekitar yang mencoba menilep pakaian kami, tapi biasanya dapat diselesaikan secara kekeluargaan saja oleh pihak pengurus Ponpes. Ada sebuah anjuran dari pihak Ponpes buat santri-santri yang kehilangan pakaian, sepatu, dll diperbolehkan membuat pengumuman dan sebagainya. Apabila dalam dua bulan juga tidak kembali maka harap diikhlaskan saja, itu adalas hikmah ketika kondisi hidup bersama. Oleh karena itu kontrol terhadap barang-barang milik pribadi harus dilakukan secara berkala oleh masing-masing santri.

Selain persoalan pakaian hilang, juga ada problem lain seperti baju yang di jemur jatuh ke tanah akibat hembusan angin atau geser-menggeser posisi pakaian di jemuran. Mending kalau ada kawan-kawan yang berbaik hati tentu akan diangkatnya kembali ke atas jemuran. Kalau tidak ya . . . terpaksa harus dicuci ulang yang kadang-kadang kalau sedang apes jatuh di atas genangan lumpur sehingga akan susah membedakan mana yang lumpur dengan pakaian kita. Terpaksa ini pekaian harus direndam dengan rinso selama setengah hari, kalau seragam sekolah juga harus ditambah dengan bayclean agar kembali warna aslinya.

Menyikapi persoalan ini, kami juga memikirkan strategi sehingga jangan sampai terjebak pada persoalan di atas. Setelah kami analisa ternyata untuk dapat menghindar dari problem di atas jawabannya juga tidak lain adalah mengalah. Mengalah tidak menggunakan jemuran yang telah ada tapi mencari tempat menjemur pakaian baru yang belum terpikirkan oleh orang lain. Setelah melakukan survey ke lapangan untuk mengumpulkan data yang diperlukan, akhirnya ada satu tempat yang paling bagus dan cocok dijadikan sebagai tempat menjemur pakaian kami. Jawaban dari teka-teki ini adalah Loteng Asrama tempat kami menginap. Kebetulan untuk anak kelas satu, kami menempati asrama baru sehingga bagian loteng masih bersih. Dengan memasang beberapa paku pada tulang kuda-kuda atap asrama, kami bisa menjemur pakaian berhanger yang dinaikan dari bawah dengan bantuan sebuah galah (kayu panjang).

Apa yang kami lakukan ini, juga ditiru oleh beberapa santri-santri lain yang juga berpikiran sama dengan kami. Dan mereka tidak malu-malu mengungkapkan kepada kami bahwa itu merupakan ide yang cerdas. Karena dalam perjalannya ternyata pakaian yang dijemur di dalam loteng yang tepat berada di bawah atap seng asrama lebih cepat keringnya dari pada dijemur di tempat biasa. Dari sisi ilmu pengetahuan, hal ini disebabkan suhu dua tempat tersebut yang berbeda.

Pengalama pribadi ini akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa kadang mengalah bukan berarti kita kalah atau lemah. Justru dengan mengalah kita bisa menang. Bahkan bukan menang bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Tetapi mengalah dalam hal ini hanya untuk tujuan positif saja bukan mengalah untuk merugikan diri sendiri, karena kita hidup pada zaman yang penuh persaingan dengan bermilyar-milyar kompetitor di dalamnya.

Kantor Baru (Di Cat), 20 Juli 2008

Rabu, 23 Juli 2008

Monotracker: Motor dengan Desain Pesawat Tempur

Monotracker merupakan motor dengan desain dari kabin pesawat jet tempur, dapat menempuh perjalanan dengan top speed 250 km/jam.Monotracker produksi Peraves adalah kombinasi motor dengan disain jet. Disain Motonracker memberikan ruang pengendara untuk 2 orang, dibuat tertutup seperti kabin pesawat tempur. Kecepatan cukup cepat dengan 5.7 detik sudah mencapai 100km/jam, sedang kecepatan maksimum 250km/jam.

Sumber: desiran.blogspot.com

Mazda Furai; Mobil Berteknologi Tinggi 2008

Mazda Motor Corporation akan menampilkan debut premier dari konsep Mazda Furai dan edisi refined dari seri 2009 Mazda RX-8 sports car terbaru pada North American International Auto Show (NAIAS) yang digelar di Detroit, 13-27 Januari 2008 mendatang. Mazda juga membawa mobil konsep, yaitu Mazda Taiki Concept yang sudah di pamerkan di 2007 Tokyo Motor Show.

Konsep Furai yang cukup menarik perhatian publik. Mobil konsep ini ditenagai oleh 3 rotor Mazda 20b rotary engine yang bahan bakar E100 ethanol dan menghasilkan 450 hp.
Mengusung disain yang berbasis mobil balap pada American Le MAns Series car dan mengaplikasikan Courage casis C65 dengan mesin 450 hp three-rotor rotary di bawah kap.

Furai dengan sengaja akan mengaburkan batas yang secara tradisional membedakan antara mobil balap dan mobil jalanan. Secara historis, ada celah antara mobil yang khusus dipakai balap dengan mobil jalan raya, biasanya disebut supercar, yang menyamai mobil balap di jalan raya. Furai menjembatani celah itu yang tidak pernah dilakukan mobil lainnya.


Kapan Ya Gue Bikin Garasi tuk ini mobil..... He. He...

Senin, 21 Juli 2008

Waktu Jalan2 Ke Eropa, he.....


Chalidbest in Paris


Lokasi: Stadion Guesepe Meaza San Siro Milan Italia
(Waktu Kejadian Rusuh Derby AC Milan Vs InterMilan)

Senin, 14 Juli 2008

"Sibuk” dan “Lapang” dalam Waktu yang Bersamaan, Mungkinkah?


Apakah mungkin seseorang bisa menjadi “sibuk” dan “lapang” dalam waktu yang bersamaan? Merupakan pertanyaan yang sering muncul di kepala dua bulan ke belakang.

Entahlah, mungkin diriku terlalu sibuk dan selalu dikejar-kejar waktu seakan 24 jam dalam sehari terasa begitu cepat berlalu. Ibadah, kerja, kuliah, organisasi, keluarga, persekawanan, bahkan cinta bolak-balik seperti bola pimpong mengisi rutinitas kehidupan yang musti dijalani. Mungkin sudah waktunya untuk flashback ke belakang sejenak dan bertanya, apakah memang aku mempunyai banyak hal yang harus dilakukan? Atau aku-nya saja yang terlalu bersemangat?

Setelah terlalu lama berutinitas alias melakukan pekerjaan yang rutin, diri ini semakin sulit memberikan perhatian penuh pada apapun. Lambat laun baru kusadari bahwa aku mengerjakan semua itu dengan setengah hati. Terkadang diri ini sudah seperti robot yang bekerja sesuai program walaupun tubuhnya sudah lelah tetapi tetap menangkap dan mengakomodir semua peluang yang ada tanpa mempertimbangkan apakah bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Ketika kita sudah seperti mesin pasti segala sesuatunya akan terasa hambar. Kita gagal mengangkap nilai-nilai yang terkandung dalam setiap aktivitas yang telah dilakukan. Dan semua ini akan lebih menjengkelkan ketika samar-samar mencurigai bahwa sesungguhnya semua kesibukan ini tidak bermakna, tidak bertujuan, dan tidak ada value di dalamnya.


Sabtu (12/07/08), aku kosongkan waktu tak melakukan apapun, hanya duduk santai di atas sofa sambil membaca buku-biku yang sempat ngambek akibat tak tergubris lebih dua bulan. Akhirnya novel tetralogi Pramudya Ananta Toer buku ke-4 (Rumah Kaca) selesai juga kurampungkan. Tiba-tiba aku teringat ada sebuah buku yang belum sempat terbaca judulnya “The One Who is Not Busy” buah tangan Darlene Cohen. Kayaknya mewakili sekali kondisi yang sedang kuhadapi saat ini.

Sebuah pencerahan baru bagi diri ini dan tawaran solusi yang diberikannya tidak ada salahnya untuk dicoba walaupun menggunakan metode pendekatan Zen Buddha. Buku ini mengajarkan cara mempersempit dan memperluas fokus sesuai dengan kenginan dan mengembangkan fleksibilitasmental untuk mengalihkan fokus dari satu hal ke hal lain. Dengan mengikuti langkah profesional yang ditawarkan Cohen yang akan aku coba bagi kepada rekan-rekan semua yang memiliki persoalan yang sama dengan yang kuhadapi saat ini.

Ada dua pendekatan yang memdasar dalam menciptakan kehidupan yang terarah di tengah tekanan dan kerumitan kerja. Pertama, mengambil istirahat atau jeda. Walaupun kita dikejar tengat waktu, kita harus mengambil waktu jeda untuk beristirahat. Seperti yang dilakukan kabilah-kabilah yang melakukan perjalanan panjang , dari hari ke hari, namun sering berhenti untuk beristirahat. Mereka menjelaskan bahwa waktu istirahat dibutuhkan agar jiwa mereka dapat menyegarkan diri. Dalam ajaran Islam kita diharapkan untuk berhenti sejenak meninggalkan aktivitas yang sedang dikerjakan lima kali (waktu shalat) dalam sehari. Kadang-kadang kita sering mengulur-ulur waktu untuk mengerjakan ibadah wajib ini dengan alasan: “sebentar lagilah, nanggung hampir kelar, toh waktu shalat kan masih panjang, adan sebagainya”. Padahal seruan agar berhenti sejenak untuk ber-Ubhudiyah telah berkumandang.

Mungkin apabila kita menurutkan panggilan itu segera, melaksanakan shalat tepat waktu akan memperbaiki kondisi psikis kita yang sempat kacau selama beraktivitas sebelumnya. Ketenangan dan ketenraman tiba-tiba saja bersemayam dalam hati. Ditambah adanya perasaan lega bahwa telah mengerjakannya pada awal waktu dibandingkan jika dikerjakan dipenghujung waktu dengan rasa keterpaksaan dan was-was serta penyesalan kenapa tidak dikerjakan dari awal, ya khan?

Mungkin secara konseptual mengerjakan hal ini tampak begitu mudah, tetapi pelaksanaannya akan banyak benturan dan halangan yang akan menyertainya. Hanya dengan kedisiplinan dan komitment yang tinggi perlu ditanamkan dalam diri sehingga semua itu dapat dicapai. Jadi manfaatkanlah waktu untuk shalat yang tidak lebih dari 10 menit ini untuk mengembalikan kondisi psikis menjadi prima kembali.

Selain itu, kita juga dapat menyegarkan jiwa dengan cara di bawah ini:

  • Melakukan meditasi sejenak setelah melaksanakan shalat
  • Menatap ke luar jendela sejenak
  • Menggerakkan beberapa organ tubuh (kaki, tangan, leher serta kepala) selama lima menit setiap jamnya saat mengoperasikan komputer
  • Beristirahat satu hari setiap minggunya
  • Mengambil cuti tahunan untuk berkunjung ke tempat wisata
  • Mandi air panas
  • Melakukan aktivitas olahraga yang digemari
  • Menikmati perjalanan dengan pancaindera(sekedar menikmati indera penglihatan, penciuman, pendengaran, dan perasa)
  • Melekukan meditasi untuk merenungi yang telah dilakukan dan merencanakan sesauatu yang akan dikerjakan sambil berjalan (berjalan sekitar 2 km sampai ke rumah di waktu pulang kerja)
  • Sadar dalam menyantap makanan (kesadaran ekslusif dalam menggigit, menguyah, mengecap, dan menelan merupakan fokus tunggal)
  • Dan cara-cara lain yang sejenis.

Tidak ada “satu telpon lagi, satu laporan lagi, atau satu surat lagi”, melainkan persoalan menghentikan apapun yang sedang kita lakukan dan menghormati saat istimewa ini. Jika kita tidak mempunyai titik mula dan akhir yang pasti, kita akan kesulitan menghormati semangat pembaharuan ini.

Pendekatan kedua adalah melakukan penyertaan simultan. Kita dapat menjaga kesegaran jiwa dengan melakukan apa pun yang perlu dilakukan dengan sepenuh hati dan pikiran. Hal ini dapat dilakukan sepanjang waktu atau setidaknya cukup bisa membuat pekerjaan dan kehidupan lebih menyenangkan serta mengekspesikan sifat bebas kita dari lubuk hati yang terdalam.

Merupakan sebuah paradigma yang salah kalau kita menggambarkan aktivitas merupakan sumber dari berbagai kecemasan tentang betapa sibuknya kita. Diantaranya, kita sering membagi-bagi aktivitas kita ke dalam kategori mental yang tidak berguna seperti sibuk / tidak sibuk dan penting / tidak penting. Berhentilah memenggal waktu menjadi potongan-potongan yang membuat stres, menjadi mendesak / tidak mendesak, biasa saja/ mendalam, atau mengasikkan/ membosankan. Jika kita mengetahui cara mengatasi atas segala sesuatu yang kita lakukan, maka hidup kita dapat berjalan dengan kualitas yang tidak mendua dan leluasa.

Bersambung . . .

Senin, 07 Juli 2008

Tersenyumlah Kawan !!!


Mungkin ketika kamu marah, kesal karena banyak masalah, tersinggung, tertekan, dan perasaan-perasaan lain yang buruk, tiba-tiba ada seseorang yang menghadiahimu senyuman? Bukan senyum sinis meremehkan atau senyuman orang yang tidak waras. Tapi senyuman tulus yang datang dari hati dan hanya hati pula yang bisa merasakannya. Rasa kesal serta amarahmu, seketika akan cair seperti es krim terjemur di tengah terik padang pasir karena senyum itu kan? Itulah senyum.

Senyum punya banyak arti. Kalau lihat di kamus, senyum sebagai kata benda menurut Wordnet mempunyai satu arti: “ekspresi wajah yang mempunyai karakteristik dengan membentuk hingga naik sudut dari bibir/mulut; biasanya untuk menunjukkan kesenangan atau kegirangan”.

Sedangkan senyum dalam kata kerja menurut kamus Wordnet mempunyai dua arti : pertama, mengubah satu ekspresi wajah dengan melebarkan bibir, seringkali untuk menandakan kesenangan dan kedua, cara menunjukkan ekspresi ”.

Tapi senyum tidak sekedar pengertian dalam kamus. Seperti dalam ajaran Islam, tersenyum dianggap sebagai suatu ibadah, Rasulullah saw bersabda, "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah," (HR Muslim).

Wajar jika Rasulullah berkata bahwa, "senyummu pada saudaramu adalah shadaqah, pemberian tak ternilai dari seseorang pada saudaranya". Bukankah Allah SWT mengisyaratkan dalam QS Abasa, bahwa calon penghuni syurga itu mukanya berseri-seri penuh senyuman, sebaliknya dengan calon penghuni neraka.

Pada dasarnya, semua orang bisa tersenyum, namun kadangkala karena ketidakseimbangan jiwa dan pemikiran yang membuat kita merasa sangat orang sulit untuk tersenyum. Padahal kita sama-sama tahu bahwa orang yang selalu bermuka cerah, akan selalu mendapat tempat dan disukai oleh banyak orang, sebaliknya orang yang hanya cemberut saja, mudah tersinggung dan marah akan dijauhi banyak orang.

Coba bandingkan apabila kita berjumpa seseorang dengan senyuman sumbringah di lekuk bibirnya dengan orang yang dijumpai itu mengerutkan bibir dengan tatapan mata tajam. Tak ada ekspresi senyum sedikit pun di wajahnya. Hampir pasti akan muncul respons berbeda untuk dua situasi tersebut.

Ekspresi di wajah seseorang berpengaruh langsung terhadap pola komunikasi dan bentuk interaksi sosial yang akan terjadi, termasuk ekspresi balasan yang ditampilkan kemudian. Seperti contoh kenapa orang Padang lebih banyak berbelanja ke toko-toko milik kaum tionghoa dibandingkan toko milik pribumi? Salah satu alasannya adalah mendapatkan layanan yang ramah, tidak ada paksaan harus membeli, ya khan?

Senyum merupakan salah satu isyarat nonverbal atau gesture manusia dalam berkomunikasi. Penelitian yang dilakukan Leonard, Voeller, dan Kaldau(1991) menunjukkan di dalam setiap senyuman terjadi peningkatan pesan positif yang komunikatif.

Konon kata orang bangsa ini dikenal dengan bangsa yang kental keramahtamahan serta budaya luhurnya. Mungkin dulu nenek moyang kita terlalu ramah terhadap pendatang sehingga kita dijajah sampai ber-abad-abad lamanya (just kidding).

Orang mengatakan ekspresi adalah "jendela jiwa", demikian halnya senyuman dengan berbagai bentuk dan maknanya dapat dipercaya sebagai penyampai pesan yang ampuh mengenai kedalaman jiwa seseorang.

Ekman dan kawan-kawan (beberapa ahli psikologi klinis) melakukan penelitian mengenai senyuman, mempublikasikan hasil temuannya bahwa kita dapat membedakan beberapa bentuk senyuman yang tampil, juga membedakan apakah seseorang tersenyum tulus atau hanya berpura-pura demi menutup-nutupi perasaan yang sesungguhnya.

Senyuman tulus yang mengekspresikan isi hati yang gembira biasanya terjadi bersamaan dengan munculnya gerakan otot mata. Orang-orang yang mengekspresikan senyum dari hati yang tulus tentu saja didorong oleh perasaan bahagia dan gembira ketika ia melakukannya.

Sebaliknya, senyum yang terjadi hanya di bibir, yakni dengan lengkungan ke atas, sedikit atau banyak, tanpa disertai gerakan-gerakan aktif otot di seputar mata sering dihubungkan dengan ekspresi jijik. Bahkan juga kesedihan, ketakutan, kecemasan, meremehkan, sinis, ekspresi rasa iri, yang sering kali terdapat pada senyuman orang-orang yang memanipulasi perasaan negatifnya.

Senyum yang muncul sebagai ekspresi manipulasi perasaan merupakan topeng (mask). Bagi orang yang kurang peka atau tidak terlatih menangkap ekspresi nonverbal orang lain, mungkin saja sebuah senyuman dapat menyesatkan atau mengaburkan.

Akibatnya, kepura-puraan dalam interaksi sosial disebabkan pesan sosial yang tidak sampai tersebut, semakin tebal. Menyikapi keadaan dunia yang demikian, rasanya bisa pesimistis juga, jika setiap hari harus berhadapan dengan topeng-topeng wajah di sekeliling kita. Sementara kita membutuhkan nilai ketulusan pada ekspresi seseorang demi memperlancar pesan sosial dalam komunikasi.

Oh. . . Bertapa indah dan damainya dunia apabila semua penghuninya berkomitmen untuk serentak mengekspresikan senyum dari hati yang tulus dalam beberapa menit saja. Mungkin perperangan akan berhenti di muka bumi untuk sejenak.

Mari kita galakkan gerakan anti cemberut, mari murnikan hatimu, hiasi hari dengan senyuman. Lihatlah, ternyata senyuman terindah bagi seorang dokter adalah senyuman pasiennya yang baru sembuh. Senyuman terindah bagi seorang guru adalah senyuman siswanya yang lulus ujian. Senyuman terindah bagi orangtua adalah senyuman bahagia anak-anaknya. Senyuman terindah bagi bawahan adalah senyuman atasan yang bijaksana dan arief. Senyuman terindah bagi seorang sahabat adalah seyuman yang sedekahkannya disaat ia merasa membutuhkan pertolongan dan sokongan, dan begitu seterusnya. . .


(Tbg, Januari 2008)


Tersenyumlah kawan,Sebelum Tersenyum itu Dilarang.

So. . . Keep Smiling My Friend’s

Kamis, 03 April 2008

"KARAMBIA"

Sebelum anda membaca tulisan ini lebih lanjut, tolong hilangkan prasangka jelek yang mungkin akan terbersit di benak masing-masing setelah membaca judul di atas. Akhir-akhir ini istilah karambia tiba-tiba naik daun di kalangan anak-anak muda. ”eee karambia” begitu kata yang terlontar dari seorang teman menunjukkan rasa kekesalannya pada sesuatu. Entah apa salah karambia sehingga namanya sering terbawa serta.

Saya mengangkat tema ini bukan karena saya berasal dari daerah pengekspor karambia terbesar di Sumatera Barat sehingga saya biasa dipanggil ”ajo” yang selalu diidentikan dengan karambia, baruak, sate, dan sala lauak-nya.

Bukan-bukan itu, tiba-tiba saja saya teringat pada sebuah hasil diskusi dengan teman-teman se-profesi di kafe rektorat mengupas habis tentang karambia sampai ke santan-santannya.

Sungguh apes nasib karambia alias buah kelapa ini. Kenapa begitu? Coba simak proses perjalanan hidup buah karambia yang memiliki batang dengan tinggi rata-rata 10-15 meter. Mungkin karena alasan ini buah kelapa/karambia diambil oleh baruak atau binatang yang masih satu jenis dengan kera.

Kalau diperhatikan cara baruak tersebut menurunkan buah karambia setelah memilih-milih karambia yang sudah masak, lalu memilin-milin agar tampuk buah tersebut lepas. Apabila tidak mau lepas biasanya dibantu oleh kaki si baruak, sehingga kelihatan bahwa karambia itu lepas dari tampuknya setelah mendapatkan tendangan dari si baruak.

Bayangkan apa yang akan ditemui pertama oleh karambia setelah terjun bebas radius 10-15 meter akibat tendangan si baruak tadi, kalau tidak tanah pasti batu atau berantuk dengan teman yang lebih dulu turun ke bawah. Mungkin menurut perasaan si karambia situasi sudah kembali normal alias aman. Ternyata belum, beberapa saat pasca sampai di tanah, ia ditusuk dengan sulo (alat pengupas sabut/kulit luar buah kelapa) hingga menjadi botak tanpa pelindung. Tidak sampai disitu saja penderitaan yang dialami karambia, setelah di-sulo melekat pula punggung ladiang (golok) di badan sehingga karambia pecah menjadi dua keping. Belumlah sempat beristirahat, kulit dalamnya ditempelkan pada besi paku yang berputar sangat cepat membuat kulit tersebut rontok dalam ukuran kecil-kecil.

Setelah lepas kulit dalamnya, batok kelapa/tempurung nama kitanya di bakar sampai menjadi arang yang dapat dimanfaatkan untuk membakar jagung, ikan, sate, dll. Sedangkan kulit dalam tadi disiram dengan air panas. Tiba-tiba masuklah tangan manusia meremas-remas, dan baru afdhal remasannya tersebut kalau gigi bawah dan atas mereka bertaut. Setelah berusaha menahan sakit, setelah disaring karambia berubah nama menjadi santan dan langsung dimasukkan ke dalam kuali untuk dimasak. Setelah mendidih, santan tadi harus berusaha menahan panas, tiba-tiba masuk teman baru yang ia pun tidak tahu dari mana datangnya. Teman baru bergabung itu bernama jariang alias jengkol sehingga karambia tidak sendirian lagi.

Setelah itu, mereka semua dipindahkan ke piring untuk dihidangkan. Menurut pemikiran si karambia mungkin sudah selesai cobaan bagi dirinya. Mereka siap untuk disantap, tapi apa yang didapatkan karambia? Bukan sebuah penghargaan yang didapatkan tapi malah yang mendapat penghargaan hanya si jariang. ”ondeh yo lamak gulai jariang kau Piak ! ” begitu komentar yang didengar oleh karambia setelah orang-orang memakannya. Bahkan semua lupa bahwa yang paling marasai (sengsara) adalah dirinya. Tetapi sampai hari ini karambia tidak pernah protes. Ia menerima semua itu dengan sabar dan tabah.

Allah Maha Adil, berkat kesabaran dan ketabahan karambia, ia diberikan banyak kelebihan dari Pencipta. Pertama, tidak satupun mulai dari batang, buah, daun bahkan sampai ke akar-akarnya yang tidak bermanfaat. Kedua, ia tidak memerlukan pupuk dan perawatan ekstra untuk tumbuh dan berkembang, ia bisa tumbuh subur sendiri terutama di daerah pesisir pantai. Ketiga, Diberi anugerah untuk dapat berbuah setiap waktu sehingga kita tidak pernah mendengar musim buah kelapa, ya khan?

Dan banyak lagi, kelebihan lain yang tidak tersebutkan. Jadi ada sebuah nilai yang bisa diambil dari filosofi karambia di atas yakni apabila kamu jatuh ke dalam berbagai cobaan dalam hidup ini maka jalanilah dengan sabar sebab kamu tahu bahwa UJIAN terhadap IMANMU menghasilkan KETEKUNAN. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu MENJADI SEMPURNA dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Sudut Ruangan Bagian Kepegawaian Unand
Maret 2008

Komentar tulisan ini di Facebook :
1. "Ya stuju, jadilah seperti filosofi karambia yang banyak manfaatnya" (Devi Analia)
2. "
Korambia no urang pikumbuah, kelapa orang indonesia bilang" (Al Afdhal)
3. "
Ondeh, takana makan karambia mudo di Pantai dakek rumah Julira, pantai a namonyo yo...?" (Junaidi DidieOnde mandeh...patuik tu d tru filosofi 'KARAMBIA'. Asa jan marasai taruih je lah..." (Lidya NaserTulisan ini pasti bakal bersambung ya. sambungannya pasti berjudul 'Hegemoni Jariang Atas Karambia' (Dhanny Arifin)
6. "
Urang pariaman bang yo...? ajo...tu...?" (Novi Efendi)

Jumat, 15 Februari 2008

Makna Cinta dan Perkawinan bagi Plato

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab "Ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"

Analogi yang digunakan oleh guru Plato di atas dapat kita gunakan sebagai pintu masuk memulai perjalanan pencarian makna dari sesuatu yang bernama “cinta”. Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Ibarat berdiri di tengah taman bunga dimana ada jutaan jenis bunga di dalamnya, pasti ada bunga yang paling menakjubkan dan menarik perhatian kita. Disisi lain juga ada pemikiran bahwa akan ada bunga yang lebih menarik di ujung sana. Pemikiran inilah yang kadang membuat kita belum bisa memutuskan dan memanfaatkan kesempatan untuk mengambil salah satu atau membuang kesempatan itu sama sekali.

Jadi ketika kita bertemu dengan orang yang tepat untuk dicintai dan pada waktu yang tepat, itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik dan takjub, jangan bilang itu pilihan, tapi itu hanyalah kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan lagi, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang akan terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.

Jadi perkawinan adalah kelanjutan dari cinta dan merupakan proses akhir penetapan pilihan dari kesempatan-kesempatan yang ada. Ketika kita mencari yang terbaik di antara kesempatan yang ada, secara tidak langsung kita akan banyak membuang kesempatan untuk mendapatkannya dan ketika kesempurnaan ingin dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu tidak ada di dunia ini.

Perasaan cinta, takjub, simpatik, tertarik, datang diberbagai kesempatan. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai tetapi untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

14 Feb 2008 (Rektorat Unand)

Selasa, 12 Februari 2008

TAK LAGI SEINDAH MAKNANYA

Bisa jadi aku adalah orang lemah,
dari kumpulan orang-orang payah.
Bergeming untuk ingin dekat dengan mu,
sebab bagi orang lemah, tak ada keberanian
untuk merubah pilihannya.

Aku terus mengetuk pintumu,
walaupun kau tak sekalipun membukanya untukku.
Nadiku tak henti mengucapkan seribu kata tentang mu,
dan kau hanya membalasnya dengan ungkapan tak bermakna.

Nampaknya "Cinta" tak pernah mencintaiku,
ia hanya sepenggal kata yang semakin lama
semakin membuatku terasing.
Meski engkau bukanlah pilihanku satu-satunya,
tapi yang ku inginkan hanya hati mu.

Dan suatu saat nanti,
mungkin aku akan memahami itu semua,
dengan arti yang TAK LAGI SEINDAH MAKNANYA.

For Some One, In Some Where.

Senin, 04 Februari 2008

Mau Dengar Legenda Rokok?

Pada zaman dahulu kala disebuah kerajaan nikotin yang bernama Cigarilos, hiduplah seorang raja bernama Minak Djinggo dengan panglima perangnya yang gagah perkasa : Commodore.

Raja yang memimpin dengan adil dan bijaksana ini mempunyai seorang putri cantik jelita yang menjadi Mascot kerajaan, namanya Sri Wedari.

Suatu ketika putri sedang bermain di Long Beach, tiba-tiba datanglah segerombolan koboi Malboro di bawah pimpinan Mr. Brown. Koboi-koboi itu lalu menculik sang putri.

Beberapa waktu kemudian sang raja menerima surat ancaman dari sang koboi yang isinya : ' Wahai raja, kalau putrimu ingin selamat, Anda harus menebus dengan uang sebesar US$ 555 juta. Kami tunggu Anda disebuah Gudang Garam di kota Kansas. Jika anda tidak mau memenuhi permintaanku, maka kami akan menusuk putrimu dengan Djarum Super sampai Bentoel !!! '.

Raja pun menjadi geram, sehingga diadakanlah sayembara untuk mencari pendekar yang dapat menyelematkan sang putri. Singkat cerita terpilihlah pendekar Sampoerna dengan senjatanya Gentong, Pusaka dan Pompa !!!.

Sang pendekar yang Cool rupanya pernah berguru dengan seorang suhu dari negeri Tiongkok , bernama Dji Sam Soe dan dia menpunyai prinsip :"Kalo bisa nomor 1 buat apa 2,3,4"

Sang pendekar pun pergi menyeberangi lautan dengan kapal U.S.S Kennedy dengan nahkodanya Marcopolo serta Ardath, seorang jurumudi kawakan keturunan Java-American menuju medan laga untuk menyelamatkan sang putri. Sebelum berangkat sang pendekar mohon pamit dan mohon doa restu.

"Wismilak, Suhu" kata sang pendekar. Dijawab oleh suhu : "Get Lucky, muridku". Sang raja pun berucap untuk sang pendekar "Lasta Masta ....yeah !!!!". Dengan mengendarai Mustang serta semangat kepahlawanan yang besar, pendekar dari bukit Dunhill itu akhirnya berhasil menyelamatkan sang putri. Dia pukul dengan senjata saktinya si koboi Marlboro Menthol Jauuuuh sekali.

Raja sangat gembira dan kemudian diadakanlah pesta semalam suntuk di restaurant LA Light. Pada saat makan malam berlangsung Sang Raja menghampiri sang pendekar yang sedang murung. Raja berkata, "Wahai pendekar, Ini bukan basa basi lho, pesta ini diadakan khusus untuk merayakan kemenangan anda, mengapa malah murung???.

Bukankah pendekar pernah bilang, "Asyiknya rame-rame !!??". Pendekar pun menjawab, "Pria punya selera". "Lalu apa maumu ? " tanya sang raja. Dijawab oleh sang pangeran, "Minta Krisdayanti doong!!!".

Kiriman:Sibegu

Senin, 21 Januari 2008

Mobil Pintar

Kamis, 17 januari 2008 20:20 WIB

KOMPAS - Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Semarang akan meluncurkan mobil pintar untuk pertama kalinya di Jawa Tengah. Tidak hanya meminjamkan buku, mobil ini juga membawa pendongeng dan peralatan audio visual untuk memutar film ilmu pengetahuan.

Peluncuran perdana akan dilakukan di Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, pada 16 Febuari 2008. Selanjutnya, mobil itu akan berkeliling ke beberapa kecamatan di Kota Semarang, khususnya wilayah terpencil.

Peluncuran mobil pintar ini dilatarbelakangi usaha untuk menumbuhkan minat baca anak-anak dan masyarakat umum yang berada di wilayah terpencil. “Warga di wilayah terpencil biasanya kesulitan untuk memperoleh buku bacaan. Mereka harus pergi ke kota untuk bisa memperoleh buku-buku itu, padahal, rata-rata mereka adalah warga kurang mampu,” kata Kepala Seksi Perpustakaan dan Referensi pada Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Semarang Supriyadi, Kamis (17/1).

Pada setiap mobilitasnya, mobil pintar akan diikuti dua mobil perpustakaan keliling. Terdapat delapan kru pada mobil pintar, selain sopir dan teknisi kendaraan, lainnya adalah lima tutor (pendongeng) dan operator komputer.

“Lima tutor itu yang akan bertugas mendongeng untuk anak-anak, melayani peminjaman buku, dan mendampingi permainan bagi anak-anak,” ujar Supriyadi.

Menurut Supriyadi, mobil pintar memiliki konsep yang berbeda dengan mobil perpustakaan keliling. Jika perpustakaan keliling hanya meminjamkan buku, mobil pintar juga mengadakan game (permainan) anak-anak, dongeng, pemutaran film ilmu pengetahuan, dan pengenalan komputer.

“Pada setiap titik tujuan, mobil pintar akan beroperasi selama tiga atau empat hari. Titik-titik tersebut harus dekat dengan sekolah. Selain itu, wilayah yang dikunjungi harus bisa diakses oleh kendaraan roda empat,” jelas Supriyadi.

Hingga saat ini, persiapan peluncuran mobil pintar pada tahap pelatihan kru. Pelatihan tersebut di antaranya adalah cara mengoperasikan lap top (komputer jinjing) dan peralatan audio visual, pelatihan permainan anak-anak, dan cara melayani peminjaman buku.

Khusus bagi tutor, ada pelatihan mendongeng dengan menggunakan alat peraga. Tutor-tutor itu adalah para mahasiswa di Kota Semarang yang berhasil lolos seleksi tutor pada awal Januari lalu. “Status mereka sebagai free lance (pekerja lepas) yang dibayar 100.000 rupiah per harinya selama mobil pintar beroperasi,” ungkap Surpiyadi.

Saat ini, Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Semarang baru memiliki satu buah mobil pintar. Menurut Supriyadi, ada kemungkinan akan ditambah beberapa unit lagi jika masyarakat merespon baik.

KAPAN YA, MOBIL PINTAR MELUNCUR DI JALAN RAYA SUMBAR?
JAWAB: KAPAN-KAPAN

Kamis, 17 Januari 2008

Langkah Awal yang Baik dari KPK



Kamis, 17 Januari 2008

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil mencuri perhatian publik. Di tengah semua perhatian tertuju ke kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto yang kini dirawat di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina), KPK mengeluarkan perintah penahanan atas mantan Duta Besar (Dubes) RI di Malaysia Jenderal Pol (pur) Rusdihardjo, 62. Mantan Kapolri itu secara resmi ditetapkan sebagai terdakwa kasus pungutan liar (pungli) di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia. Selanjutnya...

Sabtu, 12 Januari 2008

Ide Skripsi/Tugas Akhir Buat Adik2 Elektro

Pembangkit Listrik Tenaga Surya Untuk Lampu Lalu-Lintas


Isu mengenai krisis sumber energi saat ini tengah melanda dunia. Bahan-bahan bakar fosil, seperti minyak dan gas bumi diperkirakan terus berkurang dan semakin lama akan semakin habis. Hal ini sangat mempengaruhi berbagai sektor kehidupan manusia, salah satunya adalah listrik. Mengingat, saat ini pembangkit-pembangkit listrik terutama di Indonesia masih sangat begantung kepada kedua sumber bahan bakar tersebut. Hal inilah yang mendasari para pakar dan peneliti untuk mencoba menemukan sumber-sumber energi alternatif pengganti minyak dan gas bumi.


Ayo, brani bikin gak?