Jumat, 01 Mei 2009
Binatang Angkot
“Bato, njiang. Bacirik muncuang mah”, jawab rekannya sambil tertawa, (maaf kawan-kawan bahasanya agak kasar dikit).
Coba bayangkan, kalimat seronok ini masuk ke telingaku yang kebetulan duduk di bangku cece (depan) sebelah anjing (yang maksud sopir angkot sebelah tadi). Aku cuma bisa bicara kecil dalam hati, “Wah nggak aman nih, kita disupiri oleh seekor anjing. Kalo Sopirnya anjing, kita penumpang ini apa?”.
Si sopir perlu dinasehatin, tapi kayaknya lebih tua umurnya dariku. Kalo diperingatkan apa lagi ? Ibu-ibu di belakang saja sudah berkali-kali minta dikurangi volume musiknya, gak digubris sama sekali malah balik berteriak, “Gaul dong buk, kalau ndak kancang musik nyo dak namuah nan mudo-mudo naik do. Ambo makan joa, makan daun ?”
Ku urungkan niat untuk berkomentar. Angkot mulai menyisir Jalan Veteran Purus. Si sopir Angkot mulai menunjukkan kebolehannya. Potong kiri, potong kanan, sepertinya nggak mau kalah dengan Fernando Alonso pembalap F1 ketika berlaga di sirkuit. Setiap ngerem selalu mendadak, sampai-sampai kaki kananku ikutan reflek me-rem. Padahal bukan aku yang membawa ini angkot (juga belum bisa mengendarai mobil-red), hanya kebetulan duduk di sebelah kiri sopir gila.
Sampai di Jalan Djuanda, aku mendapat firasat buruk. Hati kecilku mengatakan agar aku turun saja di sini. Tiba-tiba mulut ini meng-iya-kan tanpa persetujuan si otak.
“Kiri, Da”, dua kata ini telah terlontar. Secara otomatis angkot banting stir ke kiri hampir menyerempet sebuah sepeda motor yang melaju di sebelah kiri angkot.
Setelah turun, kurogoh saku celana untuk membayar ongos sambil berkomentar,
“Lambek-lambek lah saketek, Uda”.
Si sopir tak menjawab satu patah kata pun, hanya menunjukkan mimik muka tak senang dengan statmentku tadi.
Setelah sampai di tepi jalan, aku bingung mau ngapain, karena tujuanku ke kampus UNP Air Tawar masih jauh. Terpaksa cari angkot lain menyambung perjalanan. Saat berdiri di tepi jalan hampir semua angkot yang lewat berhenti menawarkan jasanya, tanpa diberi kode untuk berhenti terlebih dahulu.
Di sini aku baru kepikiran. Dalam negara angkot-perangkotan, pelanggan di tepi jalan adalah raja, tetapi setelah naik ke atas angkot, kekuasaannya tertinggal di tepi jalan. Kita bisa saja cuek atau menggelengkan kepala untuk menolak penawaran jasa yang ditawarkan oleh si supir angkot.
Akhirnya, lewatlah angkot tanpa musik dan kulihat sepintas lalu sopirnya sudah tua sama dengan umur angkot orange miliknya jurusan Lubuk Buaya - Pasar Raya. Aku putuskan untuk naik angkot ini untuk melanjutkan perjalanan.
Kondisi yang sangat bertolak belakang dengan angkot tadi. Telinga terhindar dari hingar-bingar musik keras plus tak ada kata-kata kotor yang keluar dari mulut si sopir angkot. Angkot ini tidaklah melaju dengan lamban, tapi si sopir membawanya dengan perhitungan yang matang sehingga penumpangpun tak ikut-ikutan tegang.
Penumpang disebelahku berteriak, “Pinggir Pak, Pinggir”, dengan mimik muka terkejut. Analisaku mengatakan bahwa tujuannya sudah terlewat mungkin keasikan melamun. Angkot orange ini kebetulan dalam posisi jalur kanan (jalur cepat), tentu butuh waktu memperlambat kecepatan dan mencari lowong aman untuk merapat ke bagian kiri jalan.
“Kiri . . . , Pak”, teriakan ke dua dari penumpang tadi.
“Saba yo nak, sadang dikarajoaan”, jawab bapak si sopir angkot dengan sopan.
Luar biasa, kata yang paling tepat merekam suasana tersebut. Mungkin akibat kejadian “Talongsong” tadi, tahap perjalan berikutnya. Pak Sopir tadi mulai banyak berteriak kecil, “ Pangeran ado?, STM ado?, Pasa Ulak Karang Ado, DPRD ado?”, dan seterusnya yang tujuannya tidak lain untuk mengingat-ingatkan penumpang agar kejadian “Talongsong” seperti tadi tak terulang lagi.
Sampai di depan Minang Plaza, tiba-tiba laju angkot drastis melambat. Kulihat di depan terjadi kemacetan. Selidik demi selidik ternyata ada kecelakaan di depan. Sebuah angkot jurusan labor, menyerempet sebuah sepeda motor.
Tersirap darahku ketika melalui angkot yang balago tersebut ternyata angkot yang kutumpangi sebelumnya. Satu sisi aku merasa bersyukur karena telah mengikuti kata hati, kalau tidak tentu bakalan hilang darah beberapa sendok. Karena berdasarkan pengalaman hidup yang sejengkal ini, setiap mengalami kejadian yang menegangkan bawaan ini perut langsung lapar mungkin karena darah langsung drop atau menguap entah ke mana. Disisi lain, aku cukup menyayangkan nasib si sopir angkot tersebut, karena yang ditabrak bukanlah orang biasa (anggota TNI Bataliyon Yudha Sakti depan kampusku). Bakalan runyam ini masalah, coba dia dengar nasihat anak muda yang baru seumur jagung ini.
Ugal-ugalan Angkot dan Bis Kota di kota Padang sudah melewati ambang batas kewajaran. Bersandar pada alasan kompitisi memperebutkan penumpang dan mengejar setoran pada Induak Samang mereka rela mengorbankan keselamatan penumpang dan pengguna jalan yang lain. Menurutku, sampai sekarang penertiban yang dilakukan pemerintah belumlah efektif. Kalau aku bandingkan dengan Kota Jakarta yang begitu padat arus kendaraannya tak separah kondisi yang ada di kota Padang.
Kalau aku pikir-pikir pemicu sopir angkutan umum ugal-ugalan di jalanan disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, membiarkan angkot memutar musik keras sehingga secara psikologis dapat meningkatkan adrenalin sopir-sopir tersebut. Kedua, tidak menindak modifikasi atau perubahan dandanan luar kendaraan umum, sehingga persaingan dalam pemasangan stiker, lampu, knalpot, dll mempersubur perperangan di tingkat sopir. Ketiga, pemberian SIM rata-rata dengan sistem tembak atau calo, kalau ditest secara benar tentu hampir setengah sopir angkutan umum Kota Padang, tak layak mengantongi SIM B. Keempat, Penegakan hukum yang masih lemah dan penuh KKN makin memperparah keadaan.
Jadi jangan salahkan rakyat badarai main hakim sendiri apabila terserempet oleh angkutan umum yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Kalau empat faktor ini tak dibenahi oleh pemerintah kota maka jalan raya / umum di Kota Padang sudah sama dengan Sirkuit Sentul. Tinggal mengundang pembalap-pembalap nasional untuk mengisi sesi latihannya di Kota Padang Tercinta, karena Padang tak pernah kekurangan stok pembalap.
Akhir kata, saya menyampaikan sebuah kata mutiara yang tertempel (stiker) pada kaca samping angkot trayek Pagambiran – Pasar Raya, “ Ka Ang Tiru Juo Ko Lai, Binatang !!!”. Mantap bukan ? Ternyata Di Kota Padang, selain tempat berkumpulnya pembalap-pembalap kelas wahid, binatang-binatang juga banyak mengantongi SIM B, LUAR BIASA BUKAN ?
Coment Tulisan Ini Di Facebook :
1. "Tapi ado angkot yang mereknyo bintang bintang binatang kali ndak ncu? Kini nyo baru hadir di angkot jan2 bisuak nyo masuak rektorat tu batambah panjang karya uncu mah ndak judul e mah ndak, REKTORAT BINATANG lai wakkkkkk" (Derizal Unp pada 26 Mei 9:48)
2. "nah. itu adalah bentuk politeness act dari sopir. bagi mereka ucapan anjiang, baruak, dll sejenis, merupakan meaningless speech. sehingga bagi yang bukan bagian dari speech community mereka, meresa tidak nyaman dengan tuturan2 tersebut. ini dibahas di jurusan cultural linguistics unand tampek ambo manyambuang sikola kini..." (Budi Fitra Helmi pada 26 Mei 9:58)
3. "Sesama anjiang dilarang saling memotong....Inilah yang sasuai kira2..Sebenarnya dalam dunia "peranjingan" kalimat seperti itu sudah menjadi biasa dan jadi bias...nah karena terjadi saling mau unjuk gigi dan unjuk "keanjingan" maka jadilah kalimat itu keluar..sebab klu tak bertutur seperti itu jadi terasa kurang ada "meaning" mereka di dunia mereka yang pada gilirannya akan dipijak2 oleh sejawat and orang kuatnya..." (Jay Ozone pada 26 Mei 11:34)
4. "anjiang....lagi2 anjiang yang jadi korban...sebenarnya apa salah anjiang....siapapun gak kan mau jadi anjiang bahkan anjiang sendiri gak mau jadi anjiang....kecuali orang cina yang bernama "anh jiang"...tu pasti keluarganya yang ngasih...tul gak ??? (Frengki Sae pada 26 Mei 12:15)
5. "Khan sopir angkot dah biasa tu....... tapi itu tetap ngak bagus" (Novizal Ekaputra pada 26 Mei 22:58)
6. "yeess, ternyata apa yang teman-teman rasakan, sama dengan yang kita rasakan bersama, mari perbaiki sistem trasportasi kota Padang" (Yulhendri Sutan pada 27 Mei 8:41)
7. "Yo lo mah ncu...Mantap e ncu jd walikota ma ndak? hehe...Klu ncu jd Walikota wak siap d blakang ncu,hehe...Hidup ncu chalid!" (Kaiya Loebis pada 27 Mei 10:15)
8. "Jadi Walikota lu, stlah itu Guebernur ..." (Romi Fernando pada 28 Mei 0:45)
Trima Kasih Atas Komentar Teman-teman semua.
Sabtu, 28 Maret 2009
Sirkumsisi Massal ala HMI
Akhir-akhir ini aku dapat hobi baru yakni ngedit foto dengan photoshoop. Menurutku ini adalah salah satu sarana mewujudkan impian-impian yang belum tercapai. Seperti pengen nikmati indahnya Kota Paris, foto bareng dengan bintang sepakbola idola, de el el. Setidaknya impian-impian tersebut setengahnya telah terwujud walaupun hanya dalam dunia semu alias palsu. Dijamin bakalan mendatangkan kepuasan tersendiri ditiap rampungnya satu-persatu foto edit-an tersebut. Gak percaya, silahkan Kawan-kawan boleh coba sendiri.
Ketika lagi milih-milih foto yang pengen diedit, aku nemuin foto-foto ketika ngadain SIRKUMSISI dulu. Sirkumsisi, Apa pula itu? Belum kenal ? Makanya kenalan sana ! Halah, ngomong sama siapa saya ini . . . !
Menurut calon dokter temanku yang bernama Topan, sirkumsisi adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Masih bingung? Itu lho, khitan bahasa orang lamanya, sunat bahasa orang kininya. Baru bisa connect khan?
Btw, buat kamu-kamu yang pingin tahu lebih dalam tentang khitan atau bagaimana cara mengkhitankan, maaf, disini bukan tempatnya. Aku lebih merekondasikan untuk ngorek informasi ke dokter di sekitar rumah anda, karena saya tak berkompeten untuk menjelaskan apalagi mengajarkan, ntar aku dibilang malpraktek lagi. Pada tulisan kali ini aku hanya mau cerita sedikit pengalaman menarik masa lalu.
Sudah menjadi agenda tahunan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Padang kita ngadain sirkumsisi massal gratis bagi masyarakat yang kurang mampu. Biasanya ambil timing kala liburan sekolah anak-anak SD. Jadi panitia sirkumsisi ini ternyata repotnya bukan maen. Mulai dari Hunting Bird (istilah yang dipakai teman-teman kala itu) alias nyari anak-anak yang mau ikut jadi peserta sirkumsisi massal. Menyiapkan peralatan dan obat-obatan sesuai dengan permintaan teman-teman HMI Komisariat Kedokteran sebagai Eksekutor Bird, sterilisasi tempat eksekusi dan lain-lain.
Sampai juga pada hari yang ditunggu oleh orang tua anak-anak yang telah mendaftarkan diri untuk sirkumsisi massal HMI Cabang Padang. Mereka datang memenuhi undangan tepat waktu. Bertolak-belakang dengan psikis anak-anak calon peserta, namanya anak-anak biasanya ceria tapi kali ini kelihatan sekali bahwa mereka tegang karena cemas menunggu detik-detik eksekusi terhadap ujung anu mereka. Terbayang sudah cerita teman-teman mereka yang lebih dahulu dieksekusi yang kadang melebih-lebihkan keaadaan. Bukannya memotivasi tapi menakut-nakuti sehingga mental mereka mental ciut menghadapi jarum suntik dan gunting calon-calon Dokter tersebut.
Kebetulan pagi itu, aku dapat jatah tugas menjemput empat orang anak calon peserta yang berdomisili di sekitar wisma HMI Jl. Hangtuah Padang yang masih dalam tahap pembangunan sehingga untuk sementara semua aktivitas HMI diungsikan ke Jl. Sawahan Dalam III. Anak-anak tersebut berasal dari kampung nelayan yang tidak jauh dari wisma HMI Jl. Hangtuah. Sesuai perjanjian, mereka menunggu di Kedai Ni Emi yang berada di depan wisma HMI Hangtuah.
Sampai di kedai Ni Emi yang aku temui hanya empat incat anak saja. Aku berfikir ke mana orang tua mereka? Lalu aku bertanya pada salah satunya, ” Diak, orang tuanya mana?”
”Gak bisa ikut Da, mereka sudah ke laut. Tadi mereka yang mengantarkan kami kemari, katanya nanti ada Anak HMI yang akan jemput kami untuk disunat, dan mereka titip blangko pendaftarannya dan blangko kesediaan”, tutur Andi yang sepertinya paling tua di antara mereka.
”Iya Chalid, anak-anak ini tadi juga dititipkan ka Uni, urang gaek-nyo ada yang sudah pergi melaut dan yang lain narik becak di pasar raya sana”, Ni Emi ikut membenarkan mereka.
” Tapi, kalian nggak takut disunat tanpa ada yang menemani?”
”Ah, biasalah itu uda, kami khan sudah besar, sudah boleh pergi sendiri” Nando yang paling kecil aku taksir umurnya baru 7 tahun.
Setelah basa-basi sedikit dengan Ni Emi, kami berangkat menuju Wisma HMI Jl. Sawahan lokasi acara sirkumsisi. Hanya ada dua motor, yang satu lagi ditarik Kemal (Ketua Bidang PPD), terpaksa satu motor tarik bertiga.
Dalam perjalan, Andi yang membonceng di belakangku berkomentar.
”Uda, boleh bertanya tidak?” tuturnya rada ragu-ragu.
”Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakanlah?”
”Uda, apa masih bisa anak usia 16 tahun disunat?”
”Emang kenapa kamu bertanya begitu, Ndi?”
”Soalnya umurku sudah segitu, Uda !!!” jawabnya bimbang.
” APA . . . ?” Kata yang terucap spontan plus satu pijakan dadakan pada rem motor yang kami kendarai yang menyebabkan laju kuda besi tersebut drastis turun menuju berhenti.
”Kok ditanyakan balik Uda, kalau sudah tidak bisa lagi biarlah aku diantar balik saja.” jawab anak itu dengan lesu.
”Kamu tidak bercanda sama uda khan?”
”Ndak bercanda bagai do Da, memang itu yang sebenarnya”. Jawab Nando yang dari tadi hanya diam, mungkin karena tak mau lama-lama terjepit di tengah kami.
”Ya udah, kita tanya pada dokternya saja nanti karena bukan wewenang Uda untuk menentukan kamu boleh ikut atau tidak”. Setidaknya jawabanku cukup menenangkan kegusaran Andi sedikit saat itu.
Sampai lokasi sirkumsisi / sunatan massal yakni lantai dua Mesjid Babussalam Muhammdiyah yang bertepatan di sebelah Wisma HMI Sementara Jl. Sawahan Dalam III. Setelah melalui rapat tim dokter ternyata Andi diperbolehkan untuk ikut sebagai peserta Sunatan massal. Begitu girangnya anak itu, karena sudah sekian lama bermimpi untuk disunat akhirnya menjadi kenyataan juga.
Aku sempat bertanya pada si Andi tentang alasan mengapa ia baru sekarang pengen disunat? Mendengar jawaban anak 16 tahun ini membuat diriku berceletuk dalam hati ”TRAGIS”. Ternyata, Bapak anak ini telah lama menjanjikan ia untuk disunat, bahkan sejak sebelum ia putus sekolah di kelas 2 SD dulu. Sunatnya harus di rumah sakit, karena ada sejenis trauma keluarga yakni adik si Bapak Andi meninggal dunia karena infeksi pada anaunya pasca jadi peserta sunatan massal yang pernah diselenggarakan di kota Padang tahun 1994. Wajar saja sampai sekarang Andi tak jadi-jadi juga disunat karena tidak adanya biaya untuk itu. Andi adalah salah satu catatan miris bagiku dari ratusan anak jalanan yang ada di kota Padang. Ibunya telah kabur dari rumah, sedangkan Bapaknya kawin lagi dengan wanita lain.
Ia tak bersekolah lagi, bahkan sempat ragu menjawab pernah duduk atau tidak di bangku sekolahan? Sehari-hari ia berputar-putar di pinggir pantai Padang sampai pantai Purus. Kadang ngamen sama teman-teman nggaruk uang dari orang pacaran di bibir pantai Padang. Kadang pagi hari bantu orang narik pukek (jaring ikan) agar dapat hadiah ikan yang nanti ditukar menjadi uang atau sebungkus nasi sayur di sebuah rumah makan ampera. Persoalan tidur bisa di rumah atau di jalanan tidak ada yang peduli, toh kalau tidak di rumah tentu si ibu tiri akan lebih senang tuturnya dengan lugu. Begitulah sekelumit cerita nyata tentang anak yang sekarang beranjak tumbuh dewasa.
Kembali ke sirkumsisi, ternyata benar-benar ribet mengelola acara ini. Disetiap sudut ruangan dipenuhi jerit dan tangis anak-anak. Ada juga anak yang ketika sedang proses eksekusi basilonjak dan pengen kabur. Kelihatan sekali teman-teman sang eksekutor sampe kualahan. Kalau sudah begini, butuh beberapa orang panitia lagi untuk megangin kaki dan tangan si anak agar tidak bergerak-gerak sambil menghibur atau menuntun si anak untuk baca dua kalimah shahadat, zikir, surat pendek, atau melantunkan asma’ul husna.
Sempat ada anak yang sewaktu eksekusi teriak-teriak, “Alah, alah mah buk dokter, mambana ambo ha, Sakiiik Mak . . . ! Agh . . .!”.
Juga ada yang jago jurus lari seribu bayangan, sehabis disuntik bius, gara-gara lihat gunting di tangan calon-calon dokter, si anak langsung melompat dan kabur melewati tangkapan maupun sergapan panitia. Wah, yang satu itu memang tangkas, kayaknya berbakat menjadi bintang sepakbola masa depan karena jago ngilik.
Nah, tuh di bawah ada foto-fotonya, sebenarnya sih mau tampilkan secara keseluruhan, takut nanti dikategorikan melanggar UU Pornografi. Jadi mohon maaf kalau hanya beberapa buah saja yang ditampilkan, karena banyak foto rada ekstrim bahkan ada foto anak-anak yang belum sirkumsisi, siapa yang jepret ya? Nakal nih fotografernya …!
Kamis, 17 Januari 2008
Langkah Awal yang Baik dari KPK

Kamis, 17 Januari 2008
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil mencuri perhatian publik. Di tengah semua perhatian tertuju ke kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto yang kini dirawat di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina), KPK mengeluarkan perintah penahanan atas mantan Duta Besar (Dubes) RI di Malaysia Jenderal Pol (pur) Rusdihardjo, 62. Mantan Kapolri itu secara resmi ditetapkan sebagai terdakwa kasus pungutan liar (pungli) di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia. Selanjutnya...
Selasa, 08 Januari 2008

Di awal tahun 2008 ini sebagian besar rakyat indonesia masih terus mengantri minyak tanah, bermimpi mendapat pekerjaan, kehilangan lahan garapan, rumahnya tergusur karena kepentingan orang berkuasa semuanya dikejutkan dengan sakitnya mantan presiden soeharto. Republik seolah-olah ikut sakit mendengar berita itu. Berbagai pendapat yang mencuat ada yang pro dan yang kontra atas kondisi yang dialami oleh pak harto menjelang menuju detik-detik kehidupan abadinya.
Ternyata bagaimanpun hebatnya seorang mahluk Tuhan dibumi seperti Nabi, Hitler, Musolini, Einstain, Thomas Alva Edison, Munir, Paus, Che guevara, Soekarno, Markos, Gembel, Pengemis, Pelacur, Koruptor, Agamawan, sampai Juru Kunci Gunung Merapi. Semuanya akan menuju kehidupan abadi yakni kehidupan setelah kematian.
Kawan-kawan marilah kita sama-sama memaafkan kebaikan dan keburukan SBY karena hingga saat ini pemerintahan SBY tidak dapat menghadirkan pak harto dalam meja hijau. Mungkin kita hanya bisa menyaksikan sidang perkara Pak Harto di kehidupan abadi . . .