Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 November 2010

GANK METEO


Gank, begitulah kami membahasakan sebuah kelompok dengan personil anggota di sebuah daerah territorial yang memiliki kesamaan presepsi sehingga berhasil membina hubungan hablum minnas di antara mereka. Kami sepakat menamakannya “Gank Meteo”. Kenapa Meteo ? Kebetulan karena kami tinggal di Komplek Meteorologi dimana orangtua kami bekerja. Aku gak tau persis kapan didirikan dan dibubarkannya gank ini. Gank ini muncul setelah diaklamasikannya sebuah gank sejenis di komplek PU yang berdekatan dengan tempat tinggal kami.

Berawal dari sebuah pertikaian teman sejawat yang kebetulan tetanggaku dengan anak dari komplek PU selepas pulang mengaji di masjid Nurul Falah. Pertikaian semakin melebar karena ada isu bahwa anak-anak PU akan mengadakan perhitungan (alias menyerang) komplek Meteo. Menyikapi hal itu, anak-anak meteo berkumpul untuk bersatu mengatisipasi ekspansi Gank PU. Terbentuklah Gank Meteo, dan uniknya, gank meteo tidak memiliki ketua dan struktur yang jelas, semua berkedudukan yang sama.
Yang terpikir pertama kala itu, kita harus memiliki markas sebagai tempat berkumpul dan konsolidasi. Menyiapkan senjata, berupa pedang kayu (terinspirasi dari pedang Satria Baja Hitam RX), Katapel, ranjau, dan lain-lain. Namanya anak-anak pertikaian kala itu tidaklah didominasi oleh adu fisik saja tapi lebih dominan saling ejek, saling ancam, atau bersaing memperbagus markas masing-masing.

Markas Gank Meteo kami pilih di samping rumah petak yang tidak berpenghuni dekat rumahku. Terbuat dari susunan triplek sisa milik bengkel Kade yang dicuri malam hari (karena setelah diminta dengan baik-baik mereka nggak mau ngasih). Kalau aku gambarkan seperti rumah gubuk di pinggiran kali Ciliwung Jakarta yang sering digusur Satpol PP di tv. Untuk masuk ke dalam markas harus hati-hati karena banyak perangkap yang dipasang. Salah satunya apabila salah langkah niscaya sebuah kotoran Jawi (sapi) akan mendarat di muka pendatang haram tersebut.

Dalam markas tertulis nama-nama personil gank lengkap dengan ke ahlian masing-masing seperti: si A (Penyusup), si B (Pengintai), si C (ahli strategi), dsb. Ada gudang senjata, gudang logistik, dan pustaka mini. Untuk menjadi personil gank butuh mendapat kesepakatan dari seluruh anggota gank meteo dan lulus tiga jenis test dengan predikat baik. Hal ini akan berlaku pada anak baru pindah di sekitar komplek kami tinggal. Test yang berat, beruntung aku termasuk pendiri gank sehingga tak perlu menjalaninya.
Test pertama adalah uji keberanian yakni mengintari pinggir gudang pupuk sebelum sholat Magrib.

Gudang pupuk yang berukuran panjang kurang lebih 200 meter dengan lebar 100 meter yang berada depan komplek kami. Gudang tersebut terbuat dari kayu yang berpondasi beton. Dinding gudang agak menjorok ke dalam sehingga kita bisa berjalan mengintari gudang di atas pondasi gudang yang tingginya 2 meter dari permukaan tanah. Bagian depan gudang sangat bersih, tapi pada bagian samping kanan, kiri dan belakang dikelilingi hutan rawa Parak Bobo. Kelihatannya gampang, tapi aku pun melakukannya di siang hari tidak berani kalau sendirian. Beberapa kali kami survey secara bersama-sama, kita bisa melihat orang hutan dan kera bergelatungan di atas pohon, bahkan pernah juga melihat ular besar sedang di bobok di atas batang kayu di belakang gudang pupuk. Kalau tidak hati-hati kita bisa jatuh ke bawah rawa, dan kalau jatuh merupakan hal mustahil untuk naik ke pinggir gudang karena tingginya 2 meter. Jadi harus fokus, berjalan harus menyandar ke dinding gudang, dan dengan gaya jalan menyamping, sampai di ujung baju bagian belakang bisa hitam akibat debu yang menempel pada dinding kayu gudang.

Apabila berhasil pada test pertama baru bisa lanjut ke test kedua. Test kedua adalah tidur di ujung landasan Bandara Tabing saat pesawat turun. Kebetulan ujung landasan Bandara Tabing tepat sejajar di belakang tempat tinggalku (tepatnya di belakang komplek PU). Dulu sekeliling bandara belum dipagar seperti sekarang. Jadi ujung aspal landasan Bandara Tabing menjadi area main favorit anak-anak Linggarjati. Apalagi saat film kartun Yonkuro booming di TVRI, semua anak merengek minta dibelikan mobilan berbaterai pada orang tua masing-masing yang harganya cukup mahal kala itu. Hampir tiap sabtu-minggu sore diadakan pacu mobil di ujung aspal Bandara Tabing.

Sebenarnya hal ini sangat dilarang, tetapi mau gimana lagi, kita tak akan bisa menemukan aspal nomor wahid seperti Bandara Tabing yang sangat cocok dijadikan track pacu mobil-mobilan Yonkuro. Walau berkali-kali dikejar satpam bandara, anak-anak tidak pernah jera, mungkin karena tak satupun anak yang tertangkap tangan oleh mereka. Bagaimana bisa tertangkap, pak satpam tersebut ngejarnya dengan sepeda di pinggir landasan yang berjarak 1,5 km dari ujung landasan tepat kami main. Bisanya kami tunggu sampai separuh jalan (kira-kira sejajar dengan Asrama Haji) baru kami membubarkan diri sambil mengejek pak satpam bandara agar lebih semangat mengayuh sepedanya. Hal ini terjadi berkali-kali sampai satpam bandara pun kapok sehingga membiarkan kami main di sekitar ujung landasan.
Pernah suatu sore kami ketangkap basah oleh si Satpam. Sebenarnya bukan tertangkap, tetapi kala kami masuk ke area bandara ternyata sudah di tunggu oleh dua orang satpam tepat di ujung landasan. Karena kaget melihat mereka ada di sana, kami langsung balik kiri untuk kabur. Mereka langsung teriak agar kami tidak pergi, mereka minta waktu untuk ngomong dengan kami. Setelah rapat kecil dengan teman-teman, kami sepakat secara bersama-sama menemui pak satpam tesebut di ujung landasan.
Berikut poin-poin MoU perwakilan anak-anak Linggarjati dengan pihak Bandara Tabing yang diwakili oleh Satpam :

1. Tidak terlalu sering bermain di area landasan bandara karena itu “Sangat Berbahaya” (maksimum 2 kali seminggu).
2. Kalaupun bermain hanya boleh di bagian ujung landasan, dengan catatan apabila lampu peringatan telah berwarna kuning segera meninggalkan area landasan untuk sesaat. Pada pinggir landasan menancap tiga buah trafick light seperti di jalan raya, tapi dengan posisi tidur dengan terjemahan :
• Lampu Hijau : Tidak ada rencana akan ada pesawat yang akan terbang maupun turun.
• Lampu Kuning : Lebih kurang 10 menit lagi akan ada pesawat yang akan menggunakan landasan.
• Lampu Merah : Lihat kanan-kiri anda, pasti ada penampakan pesawat terbang yang siap memekakkan telinga anda.
3. Butuh kerjasama yang baik antar kedua belah pihak sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan.

Aduh, ngalor ngidul ke mana ini cerita. Mari kita kembali pada persoalan test kedua, yang kelihatannya tidak sesulit test pertama. Hanya dengan tidur di tengah landasan pacu bandara tabing, tentu pada bagian ujung. Selain test keberanian dan nyali sekaligus test ketahanan indera pendengaran masing-masing. Oleh karena itu, peserta test diperbolehkan untuk menutup kedua telinga tapi tidak boleh menutup mata. Kalau menutup mata berarti didiskualifikasi. Mungkin di atas sana Bapak Pilot Maskapai Penerbangan Garuda, Mandala, atau Merpati hanya bisa geleng kepala melihat apa yang kami kerjakan. Hal ini sangat terbantu berkat kehadiran trafick light di atas. Lampu kuning berarti siap-siap, dan lampu merah is time to action.

Kalau berhasil, maju ke tahap terakhir yakni menyusup ke markas lawan sekaligus uji loyalitas terhadap gank. Test terakhir ini tidak dilakukan sendiri, tapi dilakukan secara bersama dengan perencanaan yang matang oleh gank meteo. Kontestan tinggal mengikuti instruksi yang kami berikan kalau ingin selamat dalam misi ini, karena hal ini sangat beresiko tinggi. Apabila gagal atau ketahuan bisa berakibat meletusnya perang antar gank. Indikator keberhasilan penyusupan adalah peserta test berhasil menerobos masuk ke dalam markas lawan, melumpuhkan ranjau-ranjau mereka, mencatat inventaris senjata dan perlengkapan, statistik perkembangan anggota mereka serta berhasil keluar dari markas mereka tanpa ketahuan dan meninggalkan jejak sedikitpun. Pengalaman penyusupan sebelumnya sangat membantu dalam pengerjaan misi ini.

Waktu yang paling tepat adalah sore sehabis belajar mengaji di Mesjid Nurul Falah jelang sholat asyar bersama. Penyusup diupayakan lebih dahulu mangkir dari mesjid setelah mendapat aba-aba dari kami. Sebelum action perlu dicek kehadiran personil lawan apakah semua hadir di masjid atau tidak. Kalau ada yang bolos, berarti rencana ditunda karena ada kemungkinan mereka sengaja cabut mengaji dan 80 % pasti berada di markas mereka. Perlu menjadi catatan, misi penyusupan tidak untuk merusak markas lawan, tapi mengumpulkan data terbaru perkembangan gank lawan, sehingga apabila meletus perang antar gank tentu kami lebih mudah melumpuhkan serta menghancurkan markas mereka.

Kalau kontestan berhasil melaksanakan rangkaian test di atas biasanya bisa langsung dinobatkan sebagai anggota gank meteo yang baru. Apabila terjadi sedikit kegagalan biasanya perlu diputuskan di rapat internal personil gank. Biasanya banyak yang gagal pada test pertama, kalaupun berhasil biasanya dengan sedikit kencing di celana waktu mengintari gudang pupuk.

Sekarang baru aku sadar bahwa dari kecil aku telah belajar bagaimana membentuk sebuah organisasi, membuat aturan main, punya mekanisme yang jelas dalam penetapan anggota, membuat rencana-rencana kecil secara bersama. Sekarang semua itu telah punah dan tercerabut dari kampung kami tercinta Linggarjati Tabing Padang. Tak terdengar lagi keceriaan bocah-bocah kecil main sepak tekong, taok gambar, potok lele, adu kelerang, sampai perang antar gank di jalanan kampung kami. Kemana mereka? Apa mereka keseharian mereka dihabiskan dengan belajar, bobok siang, nonton tv, atau sibuk main PS/game komputer?

Demikianlah sedikit catatan dari banyak kenakalan-kenalalan masa kecilku. Terima kasih buat kawan-kawan kecilku, mungkin tanpa kamu semua hal ini hanyalah khayalan semata. Wah . . . sudah pada sukses semua, kapan kita bisa ngumpul bareng lagi . . . ya?

Catatan : Mohon maaf cerita di atas sedikit dibumbui agar lebih menarik bagi pembaca. Bagian mana yang dibumbui? Tentu hanya anak-anak komplek meteo yang mengetahuinya, He … He …

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI KAWAN-KAWAN

23 September 2009, jam: 18:47

Senin, 08 Desember 2008

Download MP3, Legal or Ilegal Gak Sih?

“Unchu, tolong downloadkan MP3 The Changcuter baru ciek, Uncu khan OL taruih di kantua !”. Begitu steatment memelas adik-adik di Sekber HMI UNP. Semenjak Software Winamp/Windows Media Player, atau ragam yang lain hadir dalam komputer, MP3 player, handphone, dsb. Semenjak itu pula lagu dalam format MP3 didendangkan dan telah menjadi trencenter hari ini. Awalnya MP3 berasal dari CD/VCD asli atau bajakan yang dicopy ke komputer, tapi sekarang tak perlu lagi susah mencari CD/VCD, karena dengan gampang kita men-download lagu baru melalui internet yang kadang kaset atau CD original-nya belum sampai di Kota Padang tercinta. Selain mudah mendownloadnya, mendapatkannya juga dengan gratis.

Mengenai legal atau illegal-nya download lagu via internet? Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Bahkan dikalangan musisi pun sampai hari ini masih terjadi pro dan kontra terhadap persoalan tersebut. Apalagi masyarakat awam yang tidak mau ikut-ikutan bingung, “rancak mikian bareh nan untuak ka dimakan lai”.

Kalau ditanya secara pribadi saya pun juga bingung, masalah pembajakan lagu kayaknya tidak akan bisa kita hindari sekalipun media internet dimusnahkan. Karena mereka akan kembali pada cara konvensional alias dilakukan secara offline. Toh, kita dapat dengan mudahnya mendapatkan CD MP3 di lapak kaki lima Pasar Raya Padang dengan lagu-lagu kompilasi terbaru.

Gara-gara hukum yang tidak jelas membuat kita terombang ambing dalam sebuah ketidakpastian dan asumsi yang salah. Berdasarkan kaca mata hukum pembajakan merupakan suatu kegiatan dimana ada salah satu pihak yang dirugikan dan di pihak yang lain diuntungkan karena kerugian pihak pertama.

Misalnya, satu CD/kaset seorang artis/musisi dibajak atau dilipat gandakan ya… tentu oleh pembajak, tentu ia akan mendapat keuntungan berlipat ganda dari setiap penjualan CD/kaset bajakan tersebut (saya menamakannya pembajakan konvesional). Sedangkan pada pihak artis/musisi tersebut hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan satu CD/kaset saja. Hal ini sangat dilarang dan merupakan sebuah pelanggaran hukum, bahkan sekarang para artis/musisi sedang marak-maraknya kempanye anti pembajakan.

Lalu apakah download lagu MP3 di internet adalah sebuah pembajakan? Sampai hari ini saya pribadi belum pernah mendengar ada larangan pemerintah yang secara spesifik mengenai larangan untuk (share/download) lagu di internet. Sehingga bisa dikatakan bahwa tindakan di atas belum masuk dalam kategori pelanggaran hukum. Bahkan telah berbagai cara dilakukan oleh para produsen musik seperti CD diberi protect sedemikian rupa, tapi masih dapat dibajak juga.

Jadi, seharusnya para artis/musisi tidak hanya fokus pada perang terhadap pembajakan konvensional saja! Karena pembajakan cara baru lebih cepat, lebih banyak, bahkan lebih parah, ditambah dengan makin terjangkaunya harga MP3 Player/Ipod membuat penggandaan hasil karya semakin digemari oleh masyarakat. Sekarang hampir sebagian besar penggemar artis, mengenal lagu-lagu si artis dari file MP3 yang di share secara gratis di internet.Tapi, kadang-kadang ini merupakan salah satu strategi dari produser untuk mensosialisasikan karya artis serta untuk mendongkrak pamor sang artis .

Akibatnya, ketika si artis mengadakan konser banyak penggemarnya yang datang. Dan si artis dapat pula diuntungkan beberapa kali lipat! Bila kita melihat fenomena musisi pendatang baru yang terus berdatangan membuktikan bahwa tindakan share lagu di internet bukan merupakan ancaman bagi setiap musisi. Justru mendatangkan berkah dengan makin meningkatnya popularitas mereka.

Malasnya beberapa penggemar membeli kaset/ cd asli adalah: harga yang makin tidak terjangkau, hanya ada beberapa lagu yang bagus, dan tidak ada yang menarik di dalam album tersebut. Sudah seharusnya, pihak artis, produser, dan yang berkaitan mengadakan diferensiasi, jangan hanya berteriak “STOP PEMBAJAKAN”.
Selain itu hendaknya produser lebih berinovasi sehingga album aslinya dapat dibeli oleh masyarakat, entah itu dari cover album, bonus hadiah, atau apa saja yang tidak bisa didapatkan di internet.

Ini hanyalah sebuah opini dari seorang yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya, dan yang tidak suka download MP3 di internet (hanya keranjingan mendownload video clip di youtube.com).

Terima kasih
(4 Nov ’08)

Selasa, 18 November 2008

Baputa Paniang

Suatu kali, aku merasa BT banget. Penyebabnya mungkin karena libur panjang sekolah selepas terima rapor naik ke kelas dua SMA. Pergi ke sekolah ikut Class Meeting, malas karena sekolahku terletak di luar kota Padang butuh menempuh jarak 38 km. Tapi pagi itu aku brangkat mandi juga, pake seragam sekolah, lalu cabut ke simpang jalan.


Sampai perempatan jalan, baru aku putuskan mau ke mana hari ini. Lebih baik ke arah pasar raya padang saja, bisa singgah di Pusda (Pustaka Daerah) minjam buku serial Jening, Kobie, atau kisah Pipi Si Kaus Panjang yang belum sempat terbaca semuanya. Coba kalau ada serial ini ada dijual di Gramedia atau Sari Angrek bakalan kubeli mumpung sedang kaya gitu. Tapi mungkin itulah nasib kita yang tinggal di daerah bukan di pusat ibu kota negara, gak semua ada tersedia.


Musim libur begini, uang saku bulanan gak terusik sedikitpun apabila aktivitas hanya sekitar komplek rumah saja. Jadi kali ini gak ada halangan mau jalan kemana?, beli seuatu atau mau makan apapun, karena ada banyak uang di saku.

Sampai di Pasar Raya aku kaget dengar omongan orang-orang bahwa ada harimau yang tertangkap di Mata Air daerah seputar Teluk Bayur. ”Kalau mau lihat, ya buruan ke sana” bunyi iklan gratis yang disampaikan dari mulut-kemulut. Kebetulan sekali di depan hidungku ngetem angkot tujuan Teluk Bayur, lagi nungguin penumpang yang mau dimobilisasikan ke sana.


Aku naik, padahal aku belum pernah sekalipun ke areal itu. Maklum hanya SD yang di kota Padang, SMP dan SMA di area Kabupaten Padang Pariaman walaupun Ortu berdomisili di kota Padang. Saat angkot berjalan baru aku bingung, nanti aku turunnya dimana?


Untung di atas angkot ada yang sepemikiran denganku yang tujuannya juga ingin lihat si Harimau di kebun binatang dadakan ini. Jadi kepanikan langsung hilang, karena aku tinggal tunggu mereka turun berarti tujuanku pun sampai. Singkat cerita sampai di situ, setelah lihat harimau dengan terlebih dahulu membayar sumbangan suka rela untuk membeli hidangan santap siang si raja hutan yang kabarnya besok akan dibawa ke Kebun Binatang Bukittinggi tentu aku balik ke jalan raya lagi.


Ternyata asik juga berpetualang seperti ini. Mumpung hari masih pagi aku pun melanjutkan perjalanan balik ke pasar raya, baru menentukan daerah mana yang harus ditaklukkan hari ini. Pilihan ke dua adalah daerah Pengambiran yang juga belum pernah kujajaki sekalipun. Di atas angkot Pengambiran warna biru ini aku bisa bertanya-tanya dengan penumpang tentang topologi daerah, asal nama ”Pengambiran” dan info lainnya. Kadang jawaban yang kudapatkan berbeda dari tiap penumpang yang ditanya.


Sampai di ujung trayek mobil angkot ini, tentu si sopir bertanya padaku.


“ Yuang, dima turun?”

“ Angkot ko sampai siko nyo?”


” Sampai siko nyo pak?”

”Ambo baliak selah liak ka Pasa”, jawabku santai.


” Eeeh, baa lo ko, dak ka Pangambiran, manga lo naik oto ko?”

” Jalan-jalan se nyo pak, ndak ado lo nan bisa dikarajoan libur sakolah ko”


”Oooo. Aneh-aneh se karajo anak mudo-mudo kini.”

”Kok ka baliak ka Pasa, duduk di muko koa, Tapi awak baputa dulu ka ateh, ado urang manggaleh nan manitip jaganyo di baok an ka Pasa.”


Aku pun terpaksa bantuin sopir paruh baya ini angkat barang-barang dagangan ke atas angkot. Sampai di pasar raya aku bayar ongkos dua kali lipat karena trayek pulang-pergi. Eh... si sopir angkot nolak ambil uangku, katanya simpan saja buat pertualangan berikutnya.


Berikut rute perjalananku hari itu:

Tabing ==> Pasar Raya ==> Mata Air ==> Pasar Raya ==> Pengambiran ==> Pasar Raya ==> Balimbiang ==> Pasar Raya ==> Banuaran ==> putar ke Gaung ==> Pasar Raya ==> Indarung (makan siang di komplek PT Semen Padang) ==> Pasar Bandar Buat ==> Pasar Baru Limau Manis ==> Kampus Unand ==> Pasar Raya Lagi ==> Tabing (sampai di rumah pukul 17.00 WIB).


Pertualangan yang aku sepakati sendiri dengan tema ”Baputa Paniang” ini harus kubayar hanya dengan 15.000 rupiah sudah termasuk makan dan snack selama perjalanan, karena banyak diberi dispensasi dari para sopir angkot di atas.

Terima kasih kuucapkan atas kebaikan hati mereka (sopir dan penumpang angkot-Red) bertambah pengetahuanku tentang daerah-daerah yang ada di kota Padang ini lengkap dengan informasi bahkan cerita heroik bahkan mitos yang pernah terjadi pada masing-masing daerah yang terjejaki tadi.


Sampai disini saja baputa paniangnyo kawan-kawan,

bisuak disambuang baliak . . . .

Akhir November 2008

Jumat, 01 Agustus 2008

Tidak Selamanya Mengalah itu Berarti Kalah

Tiba-tiba aja aku teringat masa-masa kelas satu SLTP eh… salah Pondok Pesantren (Ponpes) maksudku sekitar 14 tahun yang lalu. Namanya hidup di Ponpes tentu semua harus dilakukan sendiri alias serba mandiri. Mulai bangun sendiri, urus makan sendiri, nyuci sendiri, pokoknya semuanya harus sendiri tanpa bantuan Ortu lagi. Awalnya rada-rada kaget sih, kenapa tiba-tiba saja semua harus “urus sendiri”, aku pun bingung kala itu. Tapi, kebingungan ini dapat dinetralisir dengan melihat kondisi yang ada di sekitar yakni teman-teman se-kamar aja bisa, mengapa aku gak bisa? Ya … khan ?!

Minggu-minggu pertama pengalamanku di Ponpes kujalani dengan sangat tertatih-tatih. Bagaimana tidak, bangun harus jam setengah lima pagi tiap hari, kalo gak mau bangun ya pasti basah. Maksudnya James Bond (gelar yang kami berikan pada Ustadz Jamri wali kamarku kala subuh) akan keluar dari markasnya menenteng pistol air yang siap ditembakkan pada santri-santri nakal and badung tak mau pergi sholat subuh.

Di Ponpes ku santri-santrinya dapat di bagi menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah santri yang hobinya mandi sebelum waktu subuh masuk (takut kalo abis subuh antrian akan sangat panjang di kamar mandi). Kubu kedua yakni santri yang mandi habis tadarusan di mesjid atau di kamar masing-masing (dengan prinsipnya “asiknya mandi rame-rame walaupun antri sampai setengah jam). Tapi aku bukanlah anggota dari kedua kubu di atas. Eiiit . . . Jangan bilang aku gak mandi-mandi ya.

Aku, fajri, dan iqbal (bukan nama sebenarnya takut mereka marah kalo dicantumkan) adalah sahabat karibku kala itu. Teman sekamar dengan lemari bersebelahan satu dengan satu yang lainnya, berkomitmen bersama untuk mengalah untuk tidak ikut-ikutan memperpanjang antrian di kamar mandi, sesuai dengan wajangan Kiai Pimpinan Ponpes waktu penyambutan santri baru bahwa kami harus saling tolong menolong, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi . . .

Berlandaskan poin mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi inilah sehingga kami tidak mau masuk pada dua kubu di atas. Kami meyakini bahwa dengan berkurangnya peserta antrian di kamar mandi akan meringankan sedikit beban kawan-kawan setidaknya, he. he. . . Padahal kami sebenarnya agak malas bersaing sama kakak-kakak kelas yang kadang nguji-nguji keramahan kami pada mereka. Karena di kamar mandi rata-rata junior yang antri akan merasa risih juga apabila ada kakak kelas tiga berada di nomor antrian berikutnya. Biasanya akan ditawarkan dulu pada mereka kalau mau lebih dulu, dan rata-rata mereka dengan mengucapkan terima kasih dan langsung mengambil tawaran yang kami berikan. Pada posisi itu mungkin keikhlasan dalam diri sangat diuji, apalagi gara-gara basa-basi bisa berakibat terlambat datang masuk kelas.

Ternyata pengalaman yang sama juga dialami sohib-sohibku ini. Setelah berdikusi tentang bagaimana strategi serta taktik kita memenangkan persaingan tetap mentok pada tembok keramahan serta basa-basi terhadap senior, tak peduli apakah mandi subuh maupun mandi di pagi hari. Akhirnya, kami sepakat mengalah serta mengikhlaskan, untuk mendahulukan teman-teman bahkan seluruh santri yang ada di Ponpes untuk mandi, baru kami bertiga yang menutup jadwal mandi pagi pada setiap harinya.

Jadi kami tidak lansung mandi habis tadarusan, bisanya kami langsung makan pagi di ruang makan santri sekalian menonton berita pagi atau main bulu tangkis dan kadang-kadang jalan-jalan keluar Ponpes lihat aktivitas penduduk yang rata-rata pergi ke sawah atau lading. Terus balik ke asrama untuk siap-siap pergi ke sekolah, kalo ada PR yang belum kelar kami selesaikan di lokal tercinta. Bisa di katakan bahwa kami orang pertama membuka pintu kelas tiap paginya.

Tepat jam 09.30 WIB bel istirahat berbunyi, buruan balik ke asrama untuk ambil perlengkapan mandi. Waktu yang 15 menit inilah kami manfaatkan mandi kadang masih sempat untuk mencuci pakaian. Kamar mandi yang begitu besar hanya milik kami bertiga tanpa antri dan basa-basi. Walaupun kadang-kadang juga ada cemooh yang datang mengatakan “Ada santri yang pergi sekolah tanpa mandi, iih… jorok”. Hal itu tidak kami tanggapi karena mandi pada waktu istirahat pagi dapat menghilangkan rasa ngantuk saat belajar sampai jam istirahat siang, plus tanpa ada lagi persoalan air macet atau mengucur kecil, ya khan.

Persoalan mengalah ini, tidak hanya kami lakukan pada waktu mandi saja, sector menjemur pakaian pun kayaknya membutuhkan strategi dan taktik yang jitu. Kenapa tidak, dari 800 santri yang mondok di Ponpes tentu akan sering terjadi kehilangan pakaian saat di jemur. Kehilagan pakaian di Ponpes kami ada yang bersifat sementara mungkin kerena terbawa oleh santri lain, atau lupa tempat dimana menjemur tuh pakaian, atau memang lalai sehingga berminggu-minggu masih ada di jemuran tapi dibilang hilang pada teman-teman. Kalau tiga ketegori di atas biasanya pakaian akan kembali pada pemiliknya.

Tapi juga ada sifatnya permanen alias hilang beneran, biasanya memeng sering ada tangan-tangan jahil yang sengaja atau berminat sekali pada pakaian yang notabene bukan miliknya. Biasannya diambil oleh pihak luar Ponpes yang kadang-kadang sering mondar-mandir di lingkungan kami. Karena namanya Ponpes siapa saja boleh berkunjung, dan sering juga tertangkap oleh santri anak-anak penduduk sekitar yang mencoba menilep pakaian kami, tapi biasanya dapat diselesaikan secara kekeluargaan saja oleh pihak pengurus Ponpes. Ada sebuah anjuran dari pihak Ponpes buat santri-santri yang kehilangan pakaian, sepatu, dll diperbolehkan membuat pengumuman dan sebagainya. Apabila dalam dua bulan juga tidak kembali maka harap diikhlaskan saja, itu adalas hikmah ketika kondisi hidup bersama. Oleh karena itu kontrol terhadap barang-barang milik pribadi harus dilakukan secara berkala oleh masing-masing santri.

Selain persoalan pakaian hilang, juga ada problem lain seperti baju yang di jemur jatuh ke tanah akibat hembusan angin atau geser-menggeser posisi pakaian di jemuran. Mending kalau ada kawan-kawan yang berbaik hati tentu akan diangkatnya kembali ke atas jemuran. Kalau tidak ya . . . terpaksa harus dicuci ulang yang kadang-kadang kalau sedang apes jatuh di atas genangan lumpur sehingga akan susah membedakan mana yang lumpur dengan pakaian kita. Terpaksa ini pekaian harus direndam dengan rinso selama setengah hari, kalau seragam sekolah juga harus ditambah dengan bayclean agar kembali warna aslinya.

Menyikapi persoalan ini, kami juga memikirkan strategi sehingga jangan sampai terjebak pada persoalan di atas. Setelah kami analisa ternyata untuk dapat menghindar dari problem di atas jawabannya juga tidak lain adalah mengalah. Mengalah tidak menggunakan jemuran yang telah ada tapi mencari tempat menjemur pakaian baru yang belum terpikirkan oleh orang lain. Setelah melakukan survey ke lapangan untuk mengumpulkan data yang diperlukan, akhirnya ada satu tempat yang paling bagus dan cocok dijadikan sebagai tempat menjemur pakaian kami. Jawaban dari teka-teki ini adalah Loteng Asrama tempat kami menginap. Kebetulan untuk anak kelas satu, kami menempati asrama baru sehingga bagian loteng masih bersih. Dengan memasang beberapa paku pada tulang kuda-kuda atap asrama, kami bisa menjemur pakaian berhanger yang dinaikan dari bawah dengan bantuan sebuah galah (kayu panjang).

Apa yang kami lakukan ini, juga ditiru oleh beberapa santri-santri lain yang juga berpikiran sama dengan kami. Dan mereka tidak malu-malu mengungkapkan kepada kami bahwa itu merupakan ide yang cerdas. Karena dalam perjalannya ternyata pakaian yang dijemur di dalam loteng yang tepat berada di bawah atap seng asrama lebih cepat keringnya dari pada dijemur di tempat biasa. Dari sisi ilmu pengetahuan, hal ini disebabkan suhu dua tempat tersebut yang berbeda.

Pengalama pribadi ini akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa kadang mengalah bukan berarti kita kalah atau lemah. Justru dengan mengalah kita bisa menang. Bahkan bukan menang bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Tetapi mengalah dalam hal ini hanya untuk tujuan positif saja bukan mengalah untuk merugikan diri sendiri, karena kita hidup pada zaman yang penuh persaingan dengan bermilyar-milyar kompetitor di dalamnya.

Kantor Baru (Di Cat), 20 Juli 2008

Jumat, 04 Januari 2008

Apa Beda Pria dengan Cowok?

Beda Pria Dengan Cowok Jelas beda dong.
Tidak semua PRIA adalah COWOK, dan begitu juga sebaliknya...Tidak semua lelaki dewasa menjadi "PRIA", ada juga yang masih begitu kekanakan setelah umurnya mencapai 40.

Tenaaaang.. jangan keburu marah duludengan kenyataan ini, mungkin memang sebagian orang dilahirkan untuk jadi "PRIA", tapi ada juga yang cukup menjadi "COWOK" saja. Sekali lagi jangan kawatir, terima saja diri Anda sebagai PRIA (P) atau sebagai COWOK (C), toh semua punya nilai lebih dan kurang tersendiri. Dan yang tak kalah penting, percayalah kadang wanita tidak peduli.


Inilah Perbedaan mendasar antara seorang PRIA dan COWOK :

P : Tahu jelas 5 tahun lagi ia mau jadi apa.
C : Tidak jelas 5 menit lagi ia mau berbuat apa.

P : Jago membuat wanita merasa tenang.
C : Jago membuat cewek merasa senang.


P : Sebelum umur 30 sudah banyak uang.
C : Sebelum umur 30 sudah banyak dosa.



P : Seimbang antara penghasilan dan pemasukan.
C : Seimbang antara hutang dan pembayaran minimum.

P : Mendukung emansipasi wanita, tapi tetap membayari bon makan wanita.
C: Mendukung emansipasi wanita dengan membiarkan wanita bayar sendiri.

P : Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan.
C : Punya salon, kafe dan bengkel langganan.

P : Meminta Anda nimbrung ngobrol kalau mamanya menelepon.
C : Pura-pura Anda tidak bersamanya jika mamanya menelepon.

P : Putus dengan pasangannya sambil berjabatan tangan dan mengakui sulitnya menjembatani perbedaan antar mereka berdua, diiringi ucapan, "Kita tetap bisa berteman selamanya."
C : Putus dengan pasangannya sambil kabur dari rumah, merokok berbatang-batang, plus ucapan, "Jangan undang aku ke pernikahanmu nanti!"

P : Mencintai wanita 10% pada pertemuan awal dan meningkat terus.
C : Mencintai wanita 100 % pada pertemuan awal dan menurun terus.

P : Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun saat berusia 17 tahun.
C : Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun saat berusia 40 tahun.

P: Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik.
C: Cuma bisa ngamuk, adu mulut, dan adu otot dalam konflik.

P : Mikirnya, "Aku masih kurang pengetahuan, harus belajar lebih banyak."
C : Mikirnya, "Aku yang terhebat di muka bumi, siapapun aku hadapin!!!"

P: Otak no 1, digabungin otot kalo kepaksa.
C: Otot no 1, ditambah otak kalo punya.

Selamat merenung !!!!!!!!!!

Dari seseorang . . .