Jumat, 24 Agustus 2007
Kamis, 23 Agustus 2007
Petuah Hasan Al-Banna
Kamis, 16 Agustus 2007
Tan Malaka, Terlupakan (Bapak Republik Indonesia Jauh Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945)
Jauh Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945)
(Dipublikasikan di Harian Umum Singgalang, Senin 20 Agustus 2007)
Siapa sih yang masih mengenal Tan Malaka? Apalagi pemuda dan pemudi saat ini. Padahal pasca runtuhnya Orde Baru begitu banyak buku, artikel dan informasi yang berkaitan dengan Tan Malaka yang sebelumnya dicekal bahkan dilarang untuk beredar di Indonesia. Padahal beliau merupakan salah satu pejuang nasionalis republik ini yang terlupakan nasibnya hingga kini.
Tan Malaka atau Ibrahim Datuk Tan Malaka merupakan salah satu tokoh revolusioner Republik Indonesia. Mungkin setelah membaca tulisan-tulisannya, mengkaji sejarah perjalanannya dan melihat foto tokoh ini dapat membuat dada semua orang serasa bergetar. Terbayang seorang anak manusia yang menjadi legenda bahkan hampir menjadi mitos. Beliau telah bertualang dari satu negeri ke negeri lainya, bahkan menjadi buronan polisi rahasia internasional.
Tan Malaka adalah seorang pejuang revolusioner yang kesepian karena dalam perjalanan hidupnya lebih cendrung berjuang dengan caranya sendiri, sangat berbeda dengan teman-teman sejawatnya seperti Soekarno, Hatta, Natsir, Agussalim, dan lain-lain. Penjara, pengasingan, dan pelarian selalu mengiringi langkahnya dan dipenghujung umurnya diakhiri dengan tragis yakni ditembak oleh bangsanya sendiri?
Walau kita tidak bisa berjumpa fisik dengan beliau, tetapi temukan beliau lewat karya-karyanya seperti: Menuju Indonesia Merdeka, Gerpolek, Dari Penjara Ke Penjara, sampai Madilog merupakan karya besar yang dibaca oleh masyarakat internasional sampai hari ini. Bahkan kisah hidupnya dalam bukunya Dari Penjara Ke Penjara contohnya kita dapat melihat begitu besar kecintaannya terhadap tanah air bahkan melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri.
Satu lagi, karyanya Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika) tahun 1943 mampu membongkar cara berpikir menjadi lebih kritis dan ilmiah dan meninggalkan mistik dan takhyul yang membuat bangsa Indonesia ketinggalan dan takluk oleh bangsa lain. Pemikiran-pemikiran yang orisinil, visioner, berbobot dan brilian yang ditelurkannya sangat berpengaruh besar terhadap perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Selaku anak Minangkabau yang terlahir 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang Suliki Sumatera Barat. Ia dibesarkan dalam suasana semangat gerakan modern Islam kaum muda di Sumatera Barat. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, M.Yamin dan lain-lain.
Begitu berbahayanya seorang Tan Malaka hingga banyak sekali negara-negara yang mencekalnya dan mengejar-ngejar untuk ditahan bahkan dibunuh tetapi ia cukup licin sehingga sangat sulit untuk ditangkap. Sejumlah tokoh besar seperti: Lenin, Stalin, Trotsky, Chiang Kai Sek, sampai Mao Tsu Teng menganggap tokoh ini adalah orang paling berbahaya dan terlarang. Tan Malaka dilarang memasuki Prancis, Sovyet, Baltik, Balkan, Britania, China Daratan apalagi Belanda. Tokoh ini adalah guru imajiner buat Ho Chi Minh (bapak bangsa Vietnam), Aung San ayah dari Aung San Syu Ki (Wikipedia Indonesia).
Tahun 1913 belajar ke Belanda, adalah sebuah kesalahan dan penyesalan besar bagi Belanda, karena telah membesarkan anak harimau. Tahun 1919 kembali ke Indonesia bekerja sebagai guru di Deli. Ketimpangan sosial di lingkungan perkebunan antara buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai tersebut. Meski beliau sempat berhaluan komunis, Tan Malaka hampir selalu bertentangan dengan para pemimpin Partai Komunis Indonesia terdahulu, seperti Alimin dan Semaun.
Dalam massa pembuangannya di Eropa, tahun 1926 pecah pemberontakan PKI di Indonesia dimulai di Sumatera Barat hingga ke daerah lainnya, tetapi berhasil ditumpas oleh Belanda. Pasca itulah Tan Malaka memutuskan hubungan dengan PKI, kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok 1927. Disanalah ide perjuangan “Menuju Indonesia Merdeka” tercetus dengan terbitnya buku yang dikarangnya dua tahun sebelumnya berjudul ”Menuju Republik Indonesia” dan diterbitkan pertama kali di Hongkong.
Karya-karya Tan Malaka tersebut berhasil diselundupkan ke Hindia Belanda dan diterima oleh tokoh-tokoh pergerakan termasuk Soekarno muda yang menyebabkan beliau dikenal sebagai Bapak Republik Indonesia jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Beliaulah yang pertama kali mencetuskan kata “Republik Indonesia” dan mengucapkan kata “Indonesia Merdeka 100%”, tanpa konpromi sama sekali dengan penjajah.
Banyak hal yang tidak terjelaskan dalam sejarah bangsa ini. Dalam buku-buku sejarah dinyatakan atau dituduh bahwa beliau adalah tokoh komunis, dan yang namanya komunis maka akan ditenggelamkan dalam sejarah dan hidup bangsa ini. Padahal juga diketahui, bahwa beliau adalah orang yang diburu dan dimusuhi oleh tokoh-tokoh komunis masa lalu, sehingga Tan Malaka menjadi salah satu ancaman terbesar bagi siapa saja baik Belanda beserta sekutunya maupun Komunis Internasional.
Di masa revolusi nasional, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Sebagian orang malah menyebutnya sebagai filosof Indonesia paling awal. Bahkan Tan Malaka yang pada tahun 1945 pernah disiapkan oleh Bung Karno untuk memimpin Indonesia jika proklamator tersebut tewas dalam masa revolusi.
Misteri kematian Pahlawan Nasional Tan Malaka akhirnya terungkap setelah setengah abad lebih pasca kematiannya oleh sejarawan asal Belanda Harry A. Poeze yang melakukan penelitian mengenai Tan Malaka selama 36 tahun. Menurut Poeze bahwa Tan Malaka meninggal karena gugur dalam perjuangan melawan penjajah Belanda, dia ditembak pada tanggal 21 Februari 1949 di desa Selo Panggung di kaki Gunung Wilis Jawa Timur atas perintah Letnan Dua Soekotjo yang kala itu sebagai anggota Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya, yang terakhir berpangkat Brigadir Jenderal dan juga pernah menjadi Walikota Surabaya.
Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda ke-2 itu didasari surat perintah Panglima Daerah Meliter Brawijaya Soengkono. Petinggi militer di Jawa Timur menilai seruan Tan Malaka yang menilai penahanan Bung Karno dan Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta enggannya elit militer bergerilya dianggap akan membahayakan stabilitas negara. Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka. Tragis memang nasib Tan Malaka, sampai-sampai kuburannya pun sampai detik ini tak ditemukan. (Kompas Cyber Media 27/07/2007).
Berkat jasa dan perjuangan beliau diangkat/ dianugerahi menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional, gelar tersebut berikan oleh Bung Karno sebagai Presiden RI, dalam keputusan Presiden RI no.53 tahun 1963.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Tulisan ini cuma sebagai pemacu agar kita anak-anak muda mengetahui dan menghargai jasa-jasa para pejuang dan pahlawan.
Banyak sejarah yang mesti diungkap kebenarannya. Sudah saatnya kita tempatkan pejuang dalam deretan pahlawan dan para pengkhianat bangsa dalam daftar para pecundang yang membawa bangsa ini dijajah lagi dalam bentuk penjajahan sektor ekonomi, politik serta kultur oleh bangsa lain. Pertanyaan yang akan muncul adalah Masih adakah anak bangsa hari ini yang sanggup menjadi replika Tan Malaka?
Wallahu ‘alam bishowab.
Senin, 30 Juli 2007
Irak Menang !!! (Wujud Sebuah Persatuan)
Ribuan orang tumpah ke jalan beberapa saat setelah pertandingan final yang disiarkan langsung televisi nasional itu berakhir.Perayaan dengan menembakkan senjata api ke udara dilakukan sebagian besar warga. Bunyi suara tembakan terdengar di hampir semua sudut kota Baghdad. Warga dengan bangga mengibar-ngibarkan bendera kebangsaan Irak sambil menari penuh gembira di jalan-jalan. Semua penderitaan dan konflik akibat teror bertahun-tahun seakan terhapus oleh sukacita. Kamis, 26 Juli 2007
JANGAN BERKECIL HATI ATAU BANGGA MENJADI SEORANG PNS
Judul tersebut masih menjadi tanda tanya besar bagi saya, karena sampai saat ini saya masih berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selama ini saya sering bertemu dengan teman-teman yang juga sangat berminat untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Rata-rata dengan alasan jaminan hari tua, seolah-olah masa depan sudah ‘aman dan nyaman’ dengan menjadi PNS. Mungkin Itu-lah penyebab begitu membludaknya manusia yang mendaftar setiap diadakannya Ujian Seleksi Penerimaan PNS yang diselenggarakan pemerintah tiap tahunnya. Sangat jarang saya jumpai orang yang sama sekali tidak berminat menjadi PNS. Begitulah memang seperti yang dikatakan oleh para pebisnis “watak orang Indonesia, murah terbuai dengan "kenyamanan". Menurut saya ada beberapa alasan mengapa orang ingin menjadi PNS, antara lain:
- Aman dan Nyaman, karena kalau di swasta katanya kalau gak dibutuhkan lagi akan dibuang/dipecat, dsb. Motivasi ini jelas bibit dari sifat PGPS (pinter goblok pendapatan sama). Kalau jadi PNS aman serta nyaman, gak bakalan dipecat mau segoblok apa pun juga. Mau kerja rajin, mau kerja malas, mau kreatif atau dongok, so pasti tetap aman, coy.
- Adanya jaminan hari tua alias pensiun, ini cukup make sense dan manusiawi, tapi apa mereka tidak tahu bahwa perusahaan2 swasta pun banyak yang memiliki program dana pensiun, dan kenapa tidak setinggi itu animo untuk bekerja di swasta? mungkin kembali ke poin di atas.
- Mau jadi kaya, yang satu ini jarang diungkapkan, tapi kalau mau disurvey secara jujur inilah motivasi utama mayoritas orang yang mau jadi PNS (Tanya Kenapa?).
- Kebanggaan, mungkin juga menjadi salah satu faktornya, meskipun saya gak tahu bagaimana harus membanggakannya. Memang ada beberapa profesi yang membanggakan atau menurut saya mereka patut bangga dengan itu seperti peneliti ilmiah, dosen, guru (salut untuk yang satu ini) atau profesi2 yang memang membutuhkan kompetensi tinggi tetapi memang dilakukan dengan komitmen dan penuh dedikasi. Untuk profesi-profesi seperti ini tentunya tidak berlaku “If I am just a little bit dumber, then I will be a PNS”. Tapi yang lainnya, BANGGA?!
Mudah-mudahan bukan empat faktor di atas yang menjadi alasan awal mau tetapi karena faktor peluang kerja yang sangat minim hari ini, sehingga setiap peluang yang ada kita manfaatkan semaksimal mungkin.
R. Mangun dalam sebuah artikelnya di harian Kompas, beliau menulis tentang sistem kependidikan kita dan kenapa orang begitu berminat menjadi PNS (birokrat). Rupanya, menurut analisis beliau, kita ini masih mewarisi mental inlander dari jaman kolonial dulu, di mana orang dididik untuk menjadi patuh dan taat pada pemerintah sehingga bisa menjadi ambtenaar (PNS di jaman kolonial). Menjadi ambtenaar itu jabatan terhormat di masyarakat waktu itu, dan rupanya masih terbawa hingga sekarang.
Yang juga masih terbawa adalah paradigma bahwa mereka adalah bagian dari kekuasaan (penguasa), bukan pelayan rakyat atau pembayar pajak. Sehingga, kata R. Mangun, pernah ada penelitian tentang cita-cita pelajar di dunia. Di Amrik, jika ditanya cita-citanya, para pelajar di sana mengatakan mereka ingin menjadi pengusaha, eksekutif perusaahaan multi nasional, pengacara, dll. Di Iran, pelajarnya ingin menjadi ulama dan tokoh syiah. Di Indonesia, pelajarnya ingin menjadi PNS, hmm... So?....
Anehnya lagi, banyak orang yang rela membuang-buang hartanya demi PNS ! Banyak dari mereka rela mengeluarkan uang hingga seratus juta rupiah ! ( masuk logika gak?), walaupun sekarang seleksi penerimaan PNS sudah lebih baik dari yang dulu-dulu, tetapi masih banyak orang yang goblok, di bumi pertiwi ini.
Berapa habis? atau Siapa/ Ada gak orang dalam? Merupakan pertanyaan yang begitu sering terdengar, ketika awal saya diterima menjadi PNS. Itulah opini publik atau suara spontan dari masyarakat terhadap proses penerimaan PNS.
Saya heran akan motivasi yang begitu tinggi untuk menjadi PNS di tengah kondisi di atas, di mana kompetensi kurang dihargai, korupsi yang begitu parah, nepotisme yang sudah menjadi budaya dan not to mention the low salary. Kalau dipikir dengan hukum ekonomi kayanya gak make sense sama sekali. Karena pengorbanan yang harus dikeluarkan besar sekali, untuk pekerjaan yang …
Kita juga tahu bahwa gaji PNS adalah kecil, tapi kata seorang peminat PNS beralasan “Kita kan bisa hidup sederhana, kita juga bisa cari tambahan lain” Hmm… CARI TAMBAHAN LAIN, YA ...
Dengan keluarnya tulisan ini bukan berarti saya tidak bersyukur telah menjadi Pegawai pemerintah alias PNS, sebenarnya saya harus bersyukur dengan rahmat yang telah diberikan-Nya, tapi… ketika ada peluang lain yang lebih baik kenapa harus mengambil jalan aman ini. kawan-kawan pilih mana: Berpenghasilan Tetap atau Tetap Berpenghasilan?
Dan kenapa ketika kita di cetak jadi sarjana, kita Cuma berpikir untuk kerja,
apakah kuliah hanya mendidik mahasiswanya, Cuma untuk mencari kerja?…
Cuma mengandalkan kerja kalau ada orang yang menawari kerja?????………
Dan tidakkah kita berpikir bagaimana kita bisa menciptakan kerja bagi orang-orang yang membutuhkan kerja????…
Artikel Ini ditulis bukan untuk mempengaruhi teman-teman yang ingin jadi PNS untuk tidak jadi PNS, Tapi semata-mata sebagai wacana bagi kita semua, bahwa PNS bukanlah satu-satunya tempat mengantungkan hidup kita.
Tidak usah berkecil hati untuk yang belum jadi PNS…
Dan jangan berbangga Hati bagi yang sudah jadi PNS
**karena ada banyak PR berat yang kamu emban sebelum atau sesudah menjadi PNS, yakni mengubah budaya dan tradisi jelek yang ada di instansi tempat kamu bertugas, Selamat (Berjuang, Bekarya dan Berinovasi), My Friend.
(YAKIN USAHA SAMPAI)
Limau manis/26 Juli 2007
Komentar: Kirim ke e-mail: chalidbest@gmail.com
Rabu, 18 Juli 2007
Bacalah, Kau-kan Paham, Saudaraku !!!
Biarkanlah waktu berbuat semaunya
Berlapang dada jika takdir menimpa
Jangan berkeluh-kesah atas musibah yang mendera
Tiada musibah yang kekal di dunia ini
Jadilah laki-laki harus tegar
Dalam menghadapi tragedi yang menghampiri
Tiada kesedihan yang kekal begitu juga dengan kebahagiaan
Prinsip dasar yang harus dipegang seorang lelaki
Tiada kesulitan yang abadi tidak pula kemudahan
Jika kita berhati puas dan mudah menerima
di atas dunia ini, kawan !!!
Bumi Allah begitu lapang luas membentang
Biarkanlah waktu ingkar janji setiap saat
Maut tak mungkin dicegah dengan cara apapun.
Jumat, 13 Juli 2007
Artikel Baru 13 Juli 2007
KOMERSIALISASI PTN DIMULAI !
Oleh:
Ibnu Chalid Bestari*
Ditengah kondisi ekonomi yang masih belum pulih dari krisis berkepanjangan, tingkat keinginan generasi muda untuk meraih pendidikan di perguruan tinggi mulai berkurang. Tidak hanya generasi muda saja yang berkurang gairah menuntut ilmu, namun beban orang tua untuk membiayai pendidikan putra-putrinya ke bangku perguruan tinggi juga akan semakin berat. Sehingga muncul stigma baru “buat apa sekolah tinggi-tinggi, uang habis, toh nantinya akan jadi pengangguran juga”.
Sepertinya dunia pendidikan kita tidak pernah lepas dari masalah. Selalu muncul polemik, mulai dari nasib guru, uang sekolah/SPP (Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan) yang mahal, insiden soal SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), masalah kualitas dan mutu pendidikan, hingga masalah komersialisasi pendidikan, terutama di perguruan tinggi.
Kasihan sekali buat calon mahasiswa yang akan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kota Padang tahun ini. Karena mereka harus menanggung beban biaya pendidikan yang lebih mahal (naik sampai 100 %) dari biaya tahun lalu. Hal ini buah dari menguatnya liberalisasi ekonomi dan kapitalisasi di sektor pendidikan.
Dalam sistem kapitalis, peran negara di minimalisasi, negara hanya sebagai regulator. Sehingga peran swasta pun dioptimalkan. Muncullah istilah-istilah baru yang sebenarnya menipu, seperti otonomi kampus yang intinya negara lepas tangan terhadap dunia pendidikan. Akibatnya, sekolah dan kampus harus jungkir-balik mencari dana. Jalan pintas yang diambil PTN adalah menaikkan biaya pendidikan. Jadilah pendidikan semakin mahal dan sulit dijangkau kalangan menengah ke bawah.
Ancaman komersialisasi menjadi kenyataan ketika perguruan tinggi berubah statusnya menjadi PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara) yang kemudian diperkuat dengan RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan). Alasannya, memang kelihatannya bagus seperti meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan jaminan mutu. Namun, praktiknya adalah kapitalisasi pendidikan. Ciri-cirinya seperti peran negara diminimalkan dan pendidikan lebih diserahkan kepada masyarakat. Lagi-lagi yang muncul adalah masalah pendanaan. Perguruan Tinggi akhirnya harus banting tulang untuk mencari sumber pendanaan mulai dari buka bisnis sampai yang paling gampang menaikkan biaya pendidikan (SPP mahasiswa).
Akibatnya, pendidikan menjadi barang mewah dan sulit dijangkau oleh mereka yang berkantong tipis. Alasan yang mendasari terjadinya privatisasi tidak lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah sering dianggap kurang mampu mengelola pendidikan. Akibatnya, lembaga pendidikan menjadi tidak efisien, tidak kompetitif, dan tidak berkembang.
Muncul rumus baru yakni sesuatu yang berkualitas itu mahal. Tapi kalau begitu hanya orang tertentu saja yang bisa menikmati, bagaimana dengan yang lain yang justru sebagian besar warga negara ini, apa mereka tidak boleh menikmati pendidikan yang bermutu? apakah pendidikan berkualitas hanya bagi mereka yang punya uang? Jawabannya sudah jelas tidak, karena di negara lain termasuk negara tetangga kita pendidikan dapat dirasakan oleh semua orang, kaya maupun miskin.
Pemerintah seharusnya mampu mengupayakan suatu pendidikan yang berkualitas tetapi dapat dijangkau. Ingat masa depan negeri ini ada di tangan generasi muda bukan pada kekayaan yang dimiliki oleh sebuah PTN. Jadi pikirkanlah nasib mereka agar mereka dapat memperoleh pendidikan yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain hingga mereka mampu bersaing di tengah persaingan global. Bukannya menawarkan konsep BHMN PTN yang terkesan ingin lepas tanggung jawab.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah. Namun, bukan berarti hal itu dibebankan kepada masyarakat. Kewajiban Pemerintahlah yang seharusnya menjamin pendidikan setiap rakyatnya baik kaya maupun miskin (amanat konstitusi negara), dengan akses yang mudah untuk pendidikan yang bermutu. Saat ini, status PT-BHMN memberikan peluang yang besar untuk memandulkan peran Pemerintah dalam sektor pendidikan. Dana pendidikan akan terpotong hingga tinggal 8% (Kompas, 10/5/2005). Kondisi ini tidak terlepas dari tekanan utang dan kebijakan pembayaran utang luar negeri.
Kebijakan yang sensitif seperti menaikkan biaya SPP perlu didahului dengan proses pembahasan dan pertimbangan yang matang melibatkan semua unsur termasuk mahasiswa sebagai objek kebijakan tesebut. Apakah sudah dipertimbangkan dengan masak biaya pendaftaran yang ditetapkan PTN tahun 2007 dapat terjangkau oleh sebagaian besar masyarakat Sumatera Barat?
Bagi para pengelola PTN harus berani terbuka dan transparan sehingga tidak ada kecurigaan dan pada sisi lain kebijakannya akan mudah dipahami oleh masyarakat. Karena kebetulan saja tahun ini tidak ada protes atau perlawanan dari mahasiswa, mungkin mahasiswa sekarang adalah dari golongan mampu dan berpunya.
Mahasiswa jangan semata dijadikan objek pendanaan. Persoalan finance perguruan tinggi perlu dicarikan jalan keluarnya, bukannya mempersulit akses masyarakat untuk belajar di PTN dengan menaikkan biaya masuk dan SPP mahasiswa baru. PTN semakin tidak memberikan tempat bagi si miskin, padahal idealnya PTN adalah tempat berkumpulnya anak bangsa yang cerdas dari berbagai kelas, bukan kumpulan anak orang-orang berkelas dengan kapabilitas yang tidak jelas. (Pdg/ 13 Juli 2007)
* Mahasiswa Universitas Negeri Padang
Selasa, 26 Juni 2007
Opiniku Di Harian Umum Singgalang
(DARI SUDUT PANDANG UJIAN AKHIR NASIONAL)
(Dipublikasikan pada Harian Umum Singgalang tanggal 16 Mei 2007)
Oleh:
Ibnu Chalid Bestari *
Soichiro Honda sampai cacat tangannya gara-gara mendesain piston sebelum sukses menjadi salah satu produsen sepeda motor dan mobil paling produktif saat ini. Thomas Alva Edison mengalami ribuan kali kegagalan sebelum menemukan lampu yang menjadi salah satu kebutuhan vital manusia modern saat ini.
Jika kita mengacu pada kisah kehidupan orang sukes yang diperkenalkan oleh sejarah maka cenderung diperoleh kesimpulan yang sama bahwa kesuksesan berawal dari kegagalan. Maka tidak salah orang bijak mengatakan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, namun tergantung pemaknaan kita masing-masing dalam memandang kegagalan tersebut. Apapun makna yang dibubuhkan pada akhirnya akan kembali pada formula bahwa hidup ini lebih pada memutuskan pilihan dan merasakan konsekuensi.
Pendek kata, gagal dan sukses adalah ritme hidup yang tidak terpisah dari kehidupan penghuni bumi. Lalu apa pembeda antara perjuangan tanpa akhir yang menghasilkan para pengubah dunia dengan perjuangan yang dikalahkan rasa putus asa karena kegagalan yang dialaminya.
Ada beberapa macam penyikapan individu pada momen di mana kegagalan terjadi, yaitu: Pertama, membiarkan saja semua terjadi dengan menerima kegagalan tersebut. Sikap ini muncul akibat dari mentalitas yang lemah dan menyebabkan tidak adanya kemauan untuk menemukan penyebab yang rasional. Bisa jadi kemauan tersebut erat kaitanya dengan level pengetahuan dan harapan yang dimiliki seseorang. Karena jawaban rasional tidak ditemukan, maka cara tunggal yang digunakan untuk memaafkan sikap demikian adalah menempatkan kegagalan tersebut dalam wilayah yang abstrak yakni meyakini itu adalah takdir atau nasib.
Kedua, menolak kegagalan tersebut biasanya dalam bentuk menyalahkan orang lain atau keadaan bahkan Tuhan. Biasanya penolakan itu terjadi akibat keseimbangan hidup yang kurang mendapat perhatian di tingkat intelektual, emosional atau spritual. Meskipun kegagalan dapat dilumpuhkan, tetapi akibat penolakan yang dilakukan, keseimbangan antara usaha dan hasil tidak sebanding.
Ketiga, penyikapan yang paling ideal yaitu menerima kegagalan dengan kualitas yang tinggi. Kegagalan dianggap sebagai materi pembelajaran diri atau bagian dari pendidikan situasi. Dalam hal ini tentu saja bukan berarti bahwa semakin banyak kegagalan semakin bagus tetapi yang ingin difokuskan adalah bagaimana individu menempatkan kegagalan sebagai proses pencapaian kesuksesan.
Munculnya penyikapan yang beragam di atas disebabkan beberapa faktor antara lain: faktor lingkungan seperti keluarga dan masyarakat sekitar yang ikut mempengaruhi dan dipengaruhi dalam pembentukan karakter mentalitas seseorang. Tetapi faktor personal-lah yang paling dominan karena pada dasarnya faktor personal-lah yang menentukan keputusan dalam memilih model penyikapan di atas.
Memaknai Kegagalan
Tidaklah benar jika kita memandang penyebab kegagalan semata-mata karena faktor negatif yang diwariskan oleh lingkungan atau sistem struktural yang ada dalam masyarakat. Justru yang dibutuhkan adalah bagaimana kita menciptakan model penyikapan ketiga yang dihasilkan dari pemahaman tentang cara kerja hidup dan dunia. Dalam hal memaknai kegagalan, kesengsaraan, atau peristiwa menyakitkan lainnya, maka langkah-langkah yang kemungkinan besar dapat membantu dalam menciptakan kondisi dengan kesadaran bahwa kita sedang menjalani pendidikan situasi untuk mematangkan diri. Bersyukur dengan apa yang baru bisa kita peroleh, tetapi tetap memiliki spirit untuk memperbaiki dan merubah kondisi juga merupakan proses penguatan diri dari dalam.
Hasil akhir dari pembelajaran diri dengan menjalani pendidikan situasi adalah memiliki kemampuan baru atau makna lain yang kita temukan. Tetapi balasan setimpal dari situasi yang kita rasakan kadang menyakitkan dapat menambah nilai plus bagi diri. Contoh orang yang pernah berhasil menggunakan kemampuan baru itu seperti Tan Malaka tidak akan ada karya besarnya yang berjudul Materialisme, Diialektika dan Logika (Madilog) yang ditulisnya dalam pelariannya masa perjuangan kemerdekaan. Madilog ditulis di truk, penjara, bahkan di bawah ancaman bombardir pesawat tempur Jepang saat itu. Ingat Prof. Dr. Hamka kalau tidak dijebloskan ke penjara, buku tafsir yang menjadi karya fenomenal Hamka tidak akan pernah rampung. Karya-karya mereka saat ini tidak hanya dibaca oleh orang Indonesia tetapi sampai ke manca negara sana.
Tentu bukan penjara atau hidup dalam pelarian yang membuat kedua sosok di atas merasakan balasan setimpal, tetapi pembelajaran diri dalam memaknai setiap peristiwa hidup yang terjadi justru menjadi kunci untuk mengembangkan sumber daya di dalam diri masing-masing dan hasilnya digunakan demi kesejahteraan orang banyak.
Siapa yang menyangka di sekolahnya Thomas A. Edison dikenal sebagai siswa yang tidak memiliki prestasi gemilang sehingga akhirnya sang guru bosan mendidiknya bahkan mengeluarkannya. Ia tetap memiliki fluktuasi emosi antara kecewa dengan kegagalan dan bahagia dengan kesuksesan bahkan mungkin sempat putus asa. Lalu kekuatan apakah yang terus mendorongnya sehingga rintangan apapun tidak bisa menghambatnya? Kuncinya adalah menemukan cara bagaimana mengoptimalkan kekuatan The Self. Apa yang diraih Edison, tidak mustahil dapat juga kita raih seandainya motivasi dan kegigihan dan tidak mudah putus asa sudah terpatri dalam diri.
Memaknai Kegagagal dalam UAN
Fenomena yang terjadi sekarang pada adik-adik kelas 3 di Sekolah Menengah Pertama dan Atas adalah ketakutan pada hantu yang bernama Ujian Akhir Nasional (UAN). UAN telah menjadi momok yang sangat menakutkan melebihi ketakutan mereka saat nonton film horor “Hantu Jeruk Purut”. Apalagi saat menunggu hasil UAN diumumkan. Perasaan takut gagal, malu pada orang tua, teman, warga sekitar selalu terngiang di kepala mereka. Bahkan sudah berandai-andai kalau seandainya tidak lulus tidak akan mau melanjutkan sekolah, cukup sampai di sini.
Kecemasan itu tidak akan timbul apabila mereka berusaha keras dalam mempersiapkan dirinya untuk menyambut UAN tersebut, karena usaha optimal pasti hasilnya juga optimal. Kalau hasilnya ternyata di luar perkiraan, sikap yang harus diambil adalah menerima kegagalan tersebut bukannya membiarkan atau menolak kegagalan tersebut dengan melakukan menyalahkan orang lain atau pihak lain. Jadikan kegagalan tesebut sebagai materi pembelajaran diri atau bagian dari pendidikan situasi dan ingat bahwa perjuangan tidak berakhir sampai di situ.
Kegagalan, tentu bukan hal yang kita harapkan. Tak satu pun orang bangga dengan kegagalan. Tapi realitas hidup manusia sangat akrab dengan kegagalan. Tak satu pun manusia yang selalu sukses dalam setiap usaha dan keinginannya. Bukankah sejarah diatas telah memberikan bukti pada kita, bahwa tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan bahkan mengecap dulu yang namanya kegagalan.
Bagi kita yang memiliki adik, anak, atau kemenakan kita yang saat ini baru saja selesai bertarung dalam UAN, hendaknya memberikan motivasi, semangat, dan bimbingan serta perhatian kepada mereka. Bagi pelajar yang notabene masih sangat muda belia, kegagalan bisa menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan dan menggelisahkan dalam hidupnya. Jangan sampai terjadi lagi kejadian tahun lalu, karena kegagalan UAN ada pelajar yang sampai mencoba bunuh diri, bahkan benar-benar bunuh diri.
Namun andaikata kenyataan pahit harus ditelan janganlah membuatnya menjadi putus harapan dan patah arang. Pengaruh orang-orang sekitar mereka sangat berperan penting kepada sikap dan langkah yang diambil si pelajar dalam menyikapi kegagalan dalam UAN ini.
Akhir kata, sebaik-baiknya orang adalah orang yang belajar dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa hidup guna memberikan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Buat kita semua, selamat menemukan makna dari peristiwa hidup, mudah-mudahan kita tidak pada golongan orang yang merugi. (Tabing, 22/04/2007)
* Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Padang
(Sekretaris Umum HMI Cabang Padang Periode 2005/2006)
Welcome Kawan-Kawan
Mari Kemari, Datang... datanglah.
Mari kemari datanglah siapapun dirimu.
Pengelana, Peragu, dan Pecinta mari...
Kemari datanglah.
Tak penting kau percaya atau tidak...
Mari, kemari datanglah
Kami bukanlah caravan yang patah hati ...
atau pintu-pintu dari keputus asa-an,
Mari kemari datanglah...
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Meski kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari datang...
datanglah sekali lagi
(Mawlana Jalaludin Rumi)


