Selasa, 06 Januari 2009

My Signal

Sinyal itu telah ku kirim
Yah, terkirim seperti sedia kala
Tapi, kenapa aku belum yakin ?
Ragu terus menjadi bimbang

Seharusnya . . . ?!?
Seharusnya sudah ada feedback
Iya, Aku yakin betul.
Sinyalku itu sudah sangat jelas

Belum, kamu belum yakin ?
Sepertinya begitu....
Sepertinya memang begitu ?
Mengacuhkan semua ini

Maksudmu . . ., apa ?
Atau akunya yang geblek
Tak mampu menerjemahkan
Kiriman sinyal balasan darimu

Sinyal balasan seperti apa?
Gelombang jenis apa ?
Atau di frekuensi berapa ?
Aneh, aku tak merasakan satu feedback pun darimu.

Harus menunggu dan tetap begitu
Sabar, itu tidak akan lama
Basi, dari dulu juga menunggu
Tapi kali ini aku yakin, Insyaallah.

Menunggu dengan sabar
Bukan si Sabar yang sedang menunggu
Juga bukan menunggu sesuatu dengan si Sabar
Tapi dengan kesabaran aku harus menunggu

Aku sungguh mengharapkan
Sebuah tanggapan
Hanya sebuah balasan
Tak lebih juga tak kurang



Sepertinya dia muncul
Sebuah sinyal balasan
Mendekat merambat dengan lamban
Sangat pelan tapi pasti

Tanggapan darimu telah sampai
Mendarat dengan mulus di inbox ku
Walaupun singkat dengan frekuensi yang juga rendah
Hanya satu kesimpulan yang bisa ku tarik :

Kamu memang benar-benar
belum siap untuk ini
That all,
25 Des’ 08

Robek Kepompong

Suatu dunia khusus untuk kamu dan aku
Sebuah ikatan yang tak seorang pun bisa lihat
Membungkus kita dalam kepompongnya
Menjaga kita dari ganasnya terjangan angin dan hujan

Ikatan inilah yang ku maksudkan
Meskipun kadang sedikit benang boleh terurai
Tapi yang baru akan tetap bertambah dari dalam
Mengikat kita semakin dekat dan kuat

Sampai kita yakin sudah saatnya keluar
Setelah habis masa persiapan diri
Mari Robek kepompong itu
Kita keluar dari persemedian ini

Hirup udara luar nan segar penuh spirit
Sambil belajar mengepakkan sayap
Saling mengagumi keindahan masing-masing
Bersama lakukan lompatan pertama

Terbang meluncur ikuti angin
Mainkan tarian indah kehidupan
Bercumbu bersama di atas angkasa
Disaksikan oleh seluruh penghuni alam

Diiringi derai dan tawa semesta
Airmata kebahagiaan pun menetes
Tanpa bisa ditahan dan disembunyikan
Iringi kebahagiaan dunia dan akhirat

Puzzle…???

"Fluktuasi kehidupan, kadang naik kadang turun, biasalah friend", tutur seorang sahabat padaku. Coba perhatikan, hampir semua sisi kehidupan ini ada naik turunnya, seperti iman, motivasi, dan semangat, bahkan cinta. Kita semua pasti juga ngerasain itu semua. Kadang semangat dan motivasi juga naik turun tergantung mood. Tapi, ternyata kalau bisa menyikapi semuanya dengan sikap yang positif, semangat dan motivasi itu bisa dikendalikan alias terjaga tetap berada di atas garis minimal.

Anggap saja hidup ini seperti bermain puzzle. Sesuatu yang berkenan maupun yang tidak silih berganti lewat dalam bentuk potongan-potongan kecil di depan hidungmu. Pilihannya adalah mau atau tidak mengumpulkan kepingan tersebut menjadi sebuah gambaran keseluruhan dari kehidupan yang pernah terlalui. Tiap potongan kecil dalam hidup pasti ada maknanya dan kalau potongan kecil itu terlewatkan, bisa membuat hidup ini jadi terasa tak utuh lagi.

Dalam menyusun puzzle, walaupun ada beberapa bagian puzzle yang belum ketemu, walau ada bagian-bagian yang sulit banget disusun, tapi begitu berhasil disusun dengan rapi, puzzle itu bakalan jadi bagus dan memberikan sebuah informasi yang jelas buat penyusunya. Coba bayangkan kalau ada satu atau banyak potongan yang hilang atau tak terkumpul tentu akan susah dalam mengambil conclusion of final dari puzzel yang disusun.

Yang bisa dipelajari dari situ, walaupun potongan kecil dalam hidup itu ada yang menyakitkan, membuat kita menyesal, membuat kita merasa bersalah dan malu. Mungkin hal ini akan sangat sulit untuk diambil dan ditaruh pada bagian mana di dalam kehidupan ini. Padahal tetap aja itu adalah bagian dari hidup yang melengkapi makna hidup dan bakalan tetap ada di dalam diri untuk selamanya, ya khan ?

Akhir kata, selamat merangkai potongan-potongan kecil kehidupanmu masing-masing dan buat orang-orang yang sudah ngasih potongan-potongan kecil dalam hidupku, thanks so much!!

Dic:
Conclusion of final = kesimpulan akhir

Koma, Titik.

An English professor wrote the words:
“A woman without her man is nothing” on the chalkboard and asked his students to punctuate it correctly.

All of the males in the class wrote:
“A woman, without her man, is nothing.”

All the females in the class wrote:
“A woman: without her, man is nothing.”

Therefore “Punctuation is powerful”

Waduh, sorry because in english ya !!!
E-mail ini kiriman seorang teman chating di Ye-Em asal india,
Sebenarnya kami sama-sama goblok dalam penguasaan bahasa inggris.
Tapi sebatas ini masih bisa nyambung karena setiap janjian chat bareng, sama-sama nyiapin transtool native language masing-masing.

Sekalian latihan and uji kegoblokan bahasa inggris ku.
Nih, hasil translatenya dalam bahasa kita:

Seorang Profesor Bahasa Inggris menulis kata-kata :
"Seorang perempuan tanpa orang (laki-laki-nya) adalah tidak ada artinya"

pada papan tulis dan bertanya pada para siswanya untuk membubuhkan tanda bacanya dengan tepat.

Semua pria dalam kelas menulis:
" Seorang perempuan, tanpa laki-laki-nya, tidak ada artinya."

Semua wanita dalam kelas menulis:
" Seorang perempuan: tanpa nya, orang laki-laki adalah tidak ada artinya."

Oleh karena itu " Pemberian tanda baca adalah kuat"

Conclusion-nya :

Kita harus berhati-hati dalam pemberian tanda baca karena kesalahan penempatan koma saja bisa merubah 180 derajat pemaknaannya apalagi kesalahan penempatan titik, koma, dan titik .,.,...

Rabu, 24 Desember 2008

Iseng2 Ganti Nama

Teringat sebuah pernyataan klasik Shakespeare “Apalah arti sebuah nama.” Saya kira Shakespeare tidak menafikan pentingnya sebuah nama tapi ingin menegaskan nama atau identitas apa pun yang dilekatkan kepada seseorang takkan lebih diingat daripada tindakan-tindakan orang tersebut. Ambil contoh mungkin orang akan lebih suka memanggil Si Anu dengan Si Dermawan karena tindakan-tindakan dermawannya. Sebaliknya orang mungkin akan menyebut Si Ciluah (licik) kepada orang bernama Dermawan karena tindakan-tindakannya yang memang licik. Bisa jadi pernyataan Shakespeare ini adalah sebuah otokritik bagi kita semua untuk menjaga nama baik kita.


Tapi dalam kehidupan yang bersama ini, kadang panggilan baru muncul dengan tanpa kesengajaan. Seperti pengalamanku waktu di bangku kuliahan dulu. Tiba-tiba saja panggilanku berubah dari “Chalid” menjadi “Uncu”, merupakan gelar yang diberikan mahasiwa baru tahun 2002. Padahal gelar Uncu di Minangkabau adalah panggilan untuk anak paling bungsu dalam keluarga yang sangat bertolak belakang dengan statusku yang merupakan sulung dari empat bersaudara. Mungkin gelar ini diberikan karena aku kelihatan imut dan kecil dibandingkan mahasiswa BP. 2000. Begitu pula teman-teman yang lain, ada yang dipanggil “Gapuak” karena memang agak gendut, “Kari” karena berambut keriting, “Dayak” karena tidak punya kampung, “Borju” entah dasarnya dari mana?, dsb.


Trus, apa hubungannya ya dengan tabel di atas?


Wah, jangan salah mengira bahwa tabel di atas bukanlah tabel unsur kimia lho !


Cuma sekadar hiburan buat kawan-kawan yang belum punya sebutan lain atau pengen punya identitas lain untuk online atau untuk sebuah nama pena.


Tabel translasi kanji (bahasa/ tulisaan Jepang) kiriman seorang temanku di atas mudah-mudahan dapat membantu.


Panggilanku sehari-hari : CHA-LID-BEST


Sekarang punya panggilan baru menjadi : Mirika Takite Tukuarichi


Silahkan panggil saya TAKITE atau TUKUARICHI


Mantap bukan ?


Jadi tidak perlu repot-repot cari ilham di kuburan kalo hanya untuk buat Nama Pena atau ID e-mail.


Catatan : Pastikan dulu dengan kamus bahasa Jepang arti dari masing-masing kata tsb. Demi baik anda juga, he…



Kamis, 18 Desember 2008

oi

“MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesia)”, kata Taufik Ismail, cukup membuat diriku tersentak. Mungkin karena beliau sedang geram melihat perilaku anak bangsa nan salamak paruiknyo sajo. Berbagai prestasi negatif yang telah dianugerahkan oleh masyarakat dunia kepadanya. Mulai negara terkorup sedunia, masih banyak buta hurufnya, sembrawutnya penataan kota, rentan pertikaian berunsur sara, sampai menjadi negara yang melakukan penghancuran hutan tercepat sedunia serta gelar-gelar lain yang kita sama-sama ketahui.

Goethe pernah berkata “awasi pikiranmu karena ia akan membentuk kata-kata, awasi kata-katamu karena ia membentuk sebuah tindakan, awasi tindakanmu karena ia membentuk karaktermu, dan awasi karaktermu karena ia menentukan nasibmu”. Ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di alam materi, merupakan refleksi dari apa yang terjadi di alam fikiran. Sikap egosentris, pragmatis, oportunis, dan sikap acuh tak acuh terhadap keadaan begitu kental terlihat dari tindakan-tindakan yang dilakukan anak negeri menunjukkan bahwa yang sakit bukanlah jasad / fisik tetapi fikiran (otak).


Main bola “berantam”, pulang sekolah “tawuran”, pedagang di pasar “parang- ladiang”, TNI dan Polisi “bentrok”, antrian penerima zakat “rebut-rebutan”, setiap konser musik “rusuh”, sampai mahasiswa yang notabene kaum terpelajar (orang paling lama duduk di bangku sekolahan) pun tak mau kalah. Gara-gara persoalan sepele sampai saling menghancurkan fasilitas kampus mereka. Contoh kejadian Fakutas Teknik vs Fakultas Ilmu Keolahragaan UNP kemaren, yang ternyata jejaknya diikuti oleh universitas yang lain di seluruh Indonesia. Bak manapuak aia di dulang, tapacak ka mungko sorang, bikin malu almamater saja.


Begitulah gejala-gejala yang terjadi dalam perjalanan kehidupan bangsa ini. Sudah cukup merefleksikan bahwa kerusakan alam fikiran bangsa ini lumayan parah. Apakah ini merupakan buah dari pendidikan masa lalu yang lebih menekankan pada pembangunan fisik material dibandingkan dengan pembangunan mental spiritual bangsa kita ? Ibarat seorang meng-update komputer miliknya, dengan casing baru dilengkapi dengan monitor layar datar keluaran terakhir, tapi tidak disertai dengan meng-instal-nya dengan software yang baru pula. Buat apa mengganti penampilan tampak necis di luar agar tampil seperti orang terhormat, tapi perilaku di dalam tak ikut di-update alias di-instal ulang sehingga virus-virus yang ada juga dapat disingkirkan. Pakaian hanyalah penutup luar saja, dia tidak akan bisa menutupi karakter seseorang yang dasarnya memang tidak berbudaya.


Semua hal yang terjadi ini bisa saja merupakan buah pendidikan masa lalu yang lebih menekankan pada pembangunan fisik material dibandingkan dengan pembangunan mental spiritual bangsa kita. Ibarat orang yang sibuk mengubah pakaian agar bisa kelihatan menjadi seseorang yang terhormat, tetapi perilaku dirinya sebenarnya rendah, maka apapun yang dipakaikan kepadanya akan memperlihatkan perilaku rendahnya itu, sebab pakaian hanyalah sebatas kulit luar, atribut yang kurang bisa menutupi karakter seseorang yang dasarnya tidak berbudaya.


Tapi biarlah begitu dulu adanya, menyadari semua ini sudah merupakan sebuah langkah maju untuk memperbaiki keadaan. Lihatlah sektor pendidikan yang mulai berbenah. Lihatlah kebijakan pemerintah daerah seperti kota padang lebih menekankan penanaman nilai agama dan moral terhadap generasi muda. Lihatlah mulai seriusnya pemerintah mengganyang korupsi, dan lihatlah bahwa kaum intelektual pun mulai resah melihat keadaan perekonomian negara yang belum juga membaik. Angap saja, saat ini kita semua sedang menelusuri lorong gelap yang belum tahu dimana ujungnya Sudah menjadi resiko kalau berjalan di kegelapan akan tersandung, nginjak kaki teman, panik, slah menyalahkan, dsb. Sikap optimis perlu kita kedepankan, bahwa kita semua akan menemukan cahaya di ujung lorong, yang penting tetap berusaha.


Renungkanlah 63 tahun lebih kita berjalan. meskipun kita terus ditimpa musibah, perseteruan tiada henti, kesalah-pahaman yang sering terjadi, tapi semangat kebangsaan jangan sampai luntur. Meski diberi gelar yang macam-macam, dengan jutaan saudara-saudara kita yang mencari nafkah di negara tetangga terus dilecehkan bahkan disiksa. Padahal, tanpa kehadiran pahwalan devisa ini, tidak mungkin mereka bisa membangun negeri mereka seperti sekarang ini.


Benar kalau mereka jauh melampaui kita secara fiskal, tapi dari segi kultural/budaya kita tidaklah kalah karena dibandingkan negara jiran kita lebih dahulu tercerahkan. Bahkan berkali-kali menjadi daerah jajahan nenek moyang kita (Majapahit, Sriwijaya, samudra Pasai, bahkan Minangkabau). Untuk semua, mari kita berbenah diri.

Meskipun payah tapi menjadi orang Indonesia, hidup begitu bebas dan merdeka. Semua bisa mengekspresikan dirinya seluas mungkin. Kemanapun mau pergi silahkan karena komunikasi mudah, semuanya menggunakan bahasa Indonesia yang sama dari sabang sampai merauke, yang beda cuma dialeknya saja. Tidak seperti tetangga yang lokasinya saja yang di timur tetapi baju budayanya western walaupun orangnya semuanya timur tapi bahasa bukan lagi bahasa ibunya, semua idiom kalau tidak di-western-kan berarti tidak modern.


Banggalah menjadi orang Indonesia, masih bisa hidup senang meskipun kehidupan ekonomi semrawut. Disini musik kita menjadi tuan rumah, disini masakan kita menjadi tuan rumah, disini kelakuan kita yang salamak paruik menjadi tuan rumah, kemanapun wajahmu kau palingkan yang kau lihat Indonesia dengan segala ekspresinya.


Disini teh talua, makan lesehan, rendang, bubur ayam, ketoprak, sampai tempe bacem pun ada. Dari manusia zaman batu sampai manusia ultra modern bisa kita jumpai. Ada ribuan suku dan budaya semua tumlek menyatu di sini dan kalau kita sapa semua bicara dalam bahasa yang sama yakni Bahasa Indonesia.


Itulah alasan mengapa:

Aku Tetap Bangga menjadi OI (ORANG INDONESIA).


13 Desember 2008

Sekber Air tawar

Kembalikan Kepada-Nya

Pernah suatu kali saya ikut AMT (Achivment Motivation Training) ketika baru jadi anggota HMI. Saya tidak ingat betul siapa nama fasilitatornya kalau tak salah, senior HMI dari Komisariat Pertanian Unand. Pembukaan awalnya sangat menarik dan unik sekali. Dia mengacungkan selembar uang 50 ribuan kehadapan kami, sambil bertanya, “Siapa yang mau uang ini, silahkan tunjuk tangan ?”, hampir seluruh peserta mengacungkan tangannya.


“Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini.”


Uang 50 ribuan tersebut diremas-diremas di depan kami semua sampai seperti baju yang habis dicuci tapi belum disetrika alias sampai basandiang-sandiang.


Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang tersebut ke lantai dan menginjak-injak dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang tersebut sudahlah lecek kotor lagi.

"Nah, kalau sudah seperti ini, apakah sekarang masih ada yang berminat dengan uang ini?" Saya lihat kanan-kiri masih banyak teman-teman yang masih mengacungkan tangan.

”Adik-adik, dari fenomena live tadi, kita bisa mengambil sebuah pelajaran penting. Perlakuan apapun yang telah saya lakukan terhadap uang ini ternyata tidak mengurangi nilai nominal dari uang tersebut. Terbukti semua masih mau apabila uang ini berpindah tangan menjadi milik anda, bukan ? Atau anda bawa uang tadi ke kedai tentu tetap akan dihargai sebesar nominal yang tertera pada kertas uang tadi, walaupun setelah anda jelaskan bahwa uang tadi telah diremas dan diinjak-injak oleh saya, ya khan?”


Inti pelajaran yang bisa diambil dari simulasi di atas adalah bagaimana kita menjadi pribadi seperti uang 50 ribuan tadi. Bukankah kehidupan yang fana ini, kita akan tetap berpeluang untuk jatuh, gagal, terkoyak, bahkan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat sehingga kita merasa berada pada posisi paling rendah di antara yang lain. Dalam kondisi seperti itu, diri ini merasa tak berharga bahkan tak berarti sama sekali.


Dalam konteks diri sendiri, wajar saja rasa ini muncul setelah melihat kegagalan demi kegagalan yang mendera yang kadang dapat membunuh kebanggaan-kebanggaan yang secara sedikit demi sedikit hingga habis. Jangan berlama-lama berada pada posisi demikian. Cobalah lihat keluar dari diri kita, sebenarnya kita tidak pernah kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai kita. Seperti uang 50 ribuan di atas, semua tahu bahwa uang tetaplah uang, dalam setiap digitnya mempunyai nilai walaupun dalam bentuk mulus maupun lecek.


Jadi buat kawan-kawan mengalami kegagalan, janganlah terlalu lama menyesali kegagalan atau kepecundangan yang mendera. Obatnya tidak lain adalah merapatlah kembali kepada orang-orang yang mencintai anda. Jangan pernah lupa bahwa kita semua adalah spesial, karena Tuhan tidak akan pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Apabila hal ini juga tidak merubah keadaan maka kembalikanlah semua pada Yang Maha Pengasih dan Penyayang.


16 Desember 2008

Wisma HMI Hangtuah 158

Senin, 08 Desember 2008

Download MP3, Legal or Ilegal Gak Sih?

“Unchu, tolong downloadkan MP3 The Changcuter baru ciek, Uncu khan OL taruih di kantua !”. Begitu steatment memelas adik-adik di Sekber HMI UNP. Semenjak Software Winamp/Windows Media Player, atau ragam yang lain hadir dalam komputer, MP3 player, handphone, dsb. Semenjak itu pula lagu dalam format MP3 didendangkan dan telah menjadi trencenter hari ini. Awalnya MP3 berasal dari CD/VCD asli atau bajakan yang dicopy ke komputer, tapi sekarang tak perlu lagi susah mencari CD/VCD, karena dengan gampang kita men-download lagu baru melalui internet yang kadang kaset atau CD original-nya belum sampai di Kota Padang tercinta. Selain mudah mendownloadnya, mendapatkannya juga dengan gratis.

Mengenai legal atau illegal-nya download lagu via internet? Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Bahkan dikalangan musisi pun sampai hari ini masih terjadi pro dan kontra terhadap persoalan tersebut. Apalagi masyarakat awam yang tidak mau ikut-ikutan bingung, “rancak mikian bareh nan untuak ka dimakan lai”.

Kalau ditanya secara pribadi saya pun juga bingung, masalah pembajakan lagu kayaknya tidak akan bisa kita hindari sekalipun media internet dimusnahkan. Karena mereka akan kembali pada cara konvensional alias dilakukan secara offline. Toh, kita dapat dengan mudahnya mendapatkan CD MP3 di lapak kaki lima Pasar Raya Padang dengan lagu-lagu kompilasi terbaru.

Gara-gara hukum yang tidak jelas membuat kita terombang ambing dalam sebuah ketidakpastian dan asumsi yang salah. Berdasarkan kaca mata hukum pembajakan merupakan suatu kegiatan dimana ada salah satu pihak yang dirugikan dan di pihak yang lain diuntungkan karena kerugian pihak pertama.

Misalnya, satu CD/kaset seorang artis/musisi dibajak atau dilipat gandakan ya… tentu oleh pembajak, tentu ia akan mendapat keuntungan berlipat ganda dari setiap penjualan CD/kaset bajakan tersebut (saya menamakannya pembajakan konvesional). Sedangkan pada pihak artis/musisi tersebut hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan satu CD/kaset saja. Hal ini sangat dilarang dan merupakan sebuah pelanggaran hukum, bahkan sekarang para artis/musisi sedang marak-maraknya kempanye anti pembajakan.

Lalu apakah download lagu MP3 di internet adalah sebuah pembajakan? Sampai hari ini saya pribadi belum pernah mendengar ada larangan pemerintah yang secara spesifik mengenai larangan untuk (share/download) lagu di internet. Sehingga bisa dikatakan bahwa tindakan di atas belum masuk dalam kategori pelanggaran hukum. Bahkan telah berbagai cara dilakukan oleh para produsen musik seperti CD diberi protect sedemikian rupa, tapi masih dapat dibajak juga.

Jadi, seharusnya para artis/musisi tidak hanya fokus pada perang terhadap pembajakan konvensional saja! Karena pembajakan cara baru lebih cepat, lebih banyak, bahkan lebih parah, ditambah dengan makin terjangkaunya harga MP3 Player/Ipod membuat penggandaan hasil karya semakin digemari oleh masyarakat. Sekarang hampir sebagian besar penggemar artis, mengenal lagu-lagu si artis dari file MP3 yang di share secara gratis di internet.Tapi, kadang-kadang ini merupakan salah satu strategi dari produser untuk mensosialisasikan karya artis serta untuk mendongkrak pamor sang artis .

Akibatnya, ketika si artis mengadakan konser banyak penggemarnya yang datang. Dan si artis dapat pula diuntungkan beberapa kali lipat! Bila kita melihat fenomena musisi pendatang baru yang terus berdatangan membuktikan bahwa tindakan share lagu di internet bukan merupakan ancaman bagi setiap musisi. Justru mendatangkan berkah dengan makin meningkatnya popularitas mereka.

Malasnya beberapa penggemar membeli kaset/ cd asli adalah: harga yang makin tidak terjangkau, hanya ada beberapa lagu yang bagus, dan tidak ada yang menarik di dalam album tersebut. Sudah seharusnya, pihak artis, produser, dan yang berkaitan mengadakan diferensiasi, jangan hanya berteriak “STOP PEMBAJAKAN”.
Selain itu hendaknya produser lebih berinovasi sehingga album aslinya dapat dibeli oleh masyarakat, entah itu dari cover album, bonus hadiah, atau apa saja yang tidak bisa didapatkan di internet.

Ini hanyalah sebuah opini dari seorang yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya, dan yang tidak suka download MP3 di internet (hanya keranjingan mendownload video clip di youtube.com).

Terima kasih
(4 Nov ’08)

Transaksi Hati

Aku pernah mutar-mutar kota Kerawang Jawa Barat dengan becak, setelah lima hari wara-wiri di kota indutri ini mengikuti Intermediet Training HMI tahun 2004. Acara yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Karawang ini tinggal satu hari lagi sehingga kalau tidak saat itu melancong lihat-lihat ini kota, kapan lagi?

Merupakan hasil kesepakatan bersama dari beberapa peserta pelatihan bahwa jadwal istirahat sore, kami manfaatkan untuk ngedar keluar dari komplek asrama haji tempat penyelenggaraan acara tersebut. Kami yang berjumlah empat orang ini menyepakati bertualangan dengan becak. Dengan alasan bahwa transportasi becak sama-sama tak ditemukan di kota asal kami masing-masing (utusan cabang Padang, Langsa, dan Kendari).

Entah sudah berapa kilometer jarak ditempuh, baik jalanan menurun dan menanjak semua terlewati, sampai peluh penarik becak jatuh meleleh seperti minyak goreng, demi melepaskan rasa haus kami tentang kota ini. Selain bertugas seagai sopir penutun jalan kami ternyata si abang penarik becak ini merupakan Guide yang baik. Setiap daerah yang kami lalui kita diberi tahu tentang histories plus kejadian-kejadian menarik yang pernah terjadi di situ.

Sampai akhirnya ketika sampai di komplek asrama haji kembali, aku bertanya ke abang penarik becak tadi tentang berapa harus dibayar dari jasa yang telah ia berikan.

Apa jawabnya “terserah adek saja mau ngasihnya berapa !!”

Nah ini dia yang menjadi pokok pembahasan kita kali ini, walaupun dari kaca mata ekonomi perbuatan tadi tidak lebih dari transaksi bisnis biasa antara penjual jasa dan pemakai jasa. Tapi yang aku rasakan bersama teman-teman transaksi ini telah berubah bentuk menjadi transaksi hati. Kecuali jawaban yang diberikan penarik becak tadi dalam bentuk nominal uang sehingga yang lebih kental adalah transaksi bisnisnya.

Yang dicari adalah keridhoan, keikhlasan hati masing-masing, berapa besarnya ongkos becak tadi, tanyalah pada hatimu, berapa kamu ikhlas memberi, namun lihatlah peluhnya yang meleleh itu, bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa bayarlah jasa yang telah diberikan oleh seseorang kepada kita setimpal sebelum keringatnya mengering.

Inilah indahnya transaksi bilamana hati yang dijadikan dasar setiap hubungan antar manusia, tidak hanya kaca mata bisnis yang kadang terasa tak bernurani saja ditonjolkan. Bukankah keadilan itu ada di hati, di alam perasaan dan di dalam diri kita masing-masing dan bukan hanya di alam pikiran saja. Adil menurut pikiran belum tentu adil menurut perasaan, disitulah letaknya keindahan dan harmoni alam kehidupan yang diciptakan Tuhan.

Jadi kuncinya hanya dengan mendengarkan hati “mau memberikan berapa?” Dalam sekejap transaksi bisnis berubah menjadi transaksi hati, LUAR BIASA (bukan sulap bukan pula sihir).

1 Des ’08

Selasa, 18 November 2008

Baputa Paniang

Suatu kali, aku merasa BT banget. Penyebabnya mungkin karena libur panjang sekolah selepas terima rapor naik ke kelas dua SMA. Pergi ke sekolah ikut Class Meeting, malas karena sekolahku terletak di luar kota Padang butuh menempuh jarak 38 km. Tapi pagi itu aku brangkat mandi juga, pake seragam sekolah, lalu cabut ke simpang jalan.


Sampai perempatan jalan, baru aku putuskan mau ke mana hari ini. Lebih baik ke arah pasar raya padang saja, bisa singgah di Pusda (Pustaka Daerah) minjam buku serial Jening, Kobie, atau kisah Pipi Si Kaus Panjang yang belum sempat terbaca semuanya. Coba kalau ada serial ini ada dijual di Gramedia atau Sari Angrek bakalan kubeli mumpung sedang kaya gitu. Tapi mungkin itulah nasib kita yang tinggal di daerah bukan di pusat ibu kota negara, gak semua ada tersedia.


Musim libur begini, uang saku bulanan gak terusik sedikitpun apabila aktivitas hanya sekitar komplek rumah saja. Jadi kali ini gak ada halangan mau jalan kemana?, beli seuatu atau mau makan apapun, karena ada banyak uang di saku.

Sampai di Pasar Raya aku kaget dengar omongan orang-orang bahwa ada harimau yang tertangkap di Mata Air daerah seputar Teluk Bayur. ”Kalau mau lihat, ya buruan ke sana” bunyi iklan gratis yang disampaikan dari mulut-kemulut. Kebetulan sekali di depan hidungku ngetem angkot tujuan Teluk Bayur, lagi nungguin penumpang yang mau dimobilisasikan ke sana.


Aku naik, padahal aku belum pernah sekalipun ke areal itu. Maklum hanya SD yang di kota Padang, SMP dan SMA di area Kabupaten Padang Pariaman walaupun Ortu berdomisili di kota Padang. Saat angkot berjalan baru aku bingung, nanti aku turunnya dimana?


Untung di atas angkot ada yang sepemikiran denganku yang tujuannya juga ingin lihat si Harimau di kebun binatang dadakan ini. Jadi kepanikan langsung hilang, karena aku tinggal tunggu mereka turun berarti tujuanku pun sampai. Singkat cerita sampai di situ, setelah lihat harimau dengan terlebih dahulu membayar sumbangan suka rela untuk membeli hidangan santap siang si raja hutan yang kabarnya besok akan dibawa ke Kebun Binatang Bukittinggi tentu aku balik ke jalan raya lagi.


Ternyata asik juga berpetualang seperti ini. Mumpung hari masih pagi aku pun melanjutkan perjalanan balik ke pasar raya, baru menentukan daerah mana yang harus ditaklukkan hari ini. Pilihan ke dua adalah daerah Pengambiran yang juga belum pernah kujajaki sekalipun. Di atas angkot Pengambiran warna biru ini aku bisa bertanya-tanya dengan penumpang tentang topologi daerah, asal nama ”Pengambiran” dan info lainnya. Kadang jawaban yang kudapatkan berbeda dari tiap penumpang yang ditanya.


Sampai di ujung trayek mobil angkot ini, tentu si sopir bertanya padaku.


“ Yuang, dima turun?”

“ Angkot ko sampai siko nyo?”


” Sampai siko nyo pak?”

”Ambo baliak selah liak ka Pasa”, jawabku santai.


” Eeeh, baa lo ko, dak ka Pangambiran, manga lo naik oto ko?”

” Jalan-jalan se nyo pak, ndak ado lo nan bisa dikarajoan libur sakolah ko”


”Oooo. Aneh-aneh se karajo anak mudo-mudo kini.”

”Kok ka baliak ka Pasa, duduk di muko koa, Tapi awak baputa dulu ka ateh, ado urang manggaleh nan manitip jaganyo di baok an ka Pasa.”


Aku pun terpaksa bantuin sopir paruh baya ini angkat barang-barang dagangan ke atas angkot. Sampai di pasar raya aku bayar ongkos dua kali lipat karena trayek pulang-pergi. Eh... si sopir angkot nolak ambil uangku, katanya simpan saja buat pertualangan berikutnya.


Berikut rute perjalananku hari itu:

Tabing ==> Pasar Raya ==> Mata Air ==> Pasar Raya ==> Pengambiran ==> Pasar Raya ==> Balimbiang ==> Pasar Raya ==> Banuaran ==> putar ke Gaung ==> Pasar Raya ==> Indarung (makan siang di komplek PT Semen Padang) ==> Pasar Bandar Buat ==> Pasar Baru Limau Manis ==> Kampus Unand ==> Pasar Raya Lagi ==> Tabing (sampai di rumah pukul 17.00 WIB).


Pertualangan yang aku sepakati sendiri dengan tema ”Baputa Paniang” ini harus kubayar hanya dengan 15.000 rupiah sudah termasuk makan dan snack selama perjalanan, karena banyak diberi dispensasi dari para sopir angkot di atas.

Terima kasih kuucapkan atas kebaikan hati mereka (sopir dan penumpang angkot-Red) bertambah pengetahuanku tentang daerah-daerah yang ada di kota Padang ini lengkap dengan informasi bahkan cerita heroik bahkan mitos yang pernah terjadi pada masing-masing daerah yang terjejaki tadi.


Sampai disini saja baputa paniangnyo kawan-kawan,

bisuak disambuang baliak . . . .

Akhir November 2008

Selasa, 28 Oktober 2008

Gutera; Langit dan Laut Bertemu

Entah mengapa kemaren habis balik dari kantor tanpa sengaja terlewatkan simpang rumahku yang idealnya aku belok ke kanan, gara-gara sedikit melamun berakibat kepada bertambah jarak perjalanan pulang menjadi satu kilo meter lagi. Cuma ada satu jalan alternatif yakni naikin motor ke atas pembatas jalan yang tingginya kurang lebih 40 centi meter yang merupakan perbuatan sia-sia belaka karena kata POLANTAS bisa mengakibatkan LAKA (kecelakaan lalu lintas).


Sepeda motor ini tetap melaju lurus dan membelok ke kiri, entah karena motor ini yang menuntun atau karena memang keinginan hati untuk berkunjung ke tempat favoritku sejak kecil dulu. Sebuah tempat yang tenang dan nyaman dan berada tidak jauh dari komplek rumahku. Tempat yang diberi gelar GUTERA alias Gubuk Terapung adalah sebuah wahana di pinggir pantai barat sumatera. Walaupun dipinggir pantai tapi tidak langsung bertemu dengan pasir atau air laut seperti objek wisata tepi pantai lainnya. Letak Gutera tidak langsung di pinggir pantai bahkan berjarak 500 meter dari garis pinggir pantai. Antara garis pantai ada sebuah genangan air seperti kolam tempat bertemunya air laut dengan muara sungai kecil yang sempat dijadikan batas daerah kekuasaan Belanda dengan pihak Indonesia yang dimunumenkan dengan sebuah tugu Perjanjian Linggarjati.


Di situ berdiri sebuah kafe kecil yang dilengkapi pondok-pondok beratapkan payung yang terbuat dari beton yang kalau dilihat dari jauh mirip dengan jamur-jamur raksasa. Dipinggiran lokasi tumbuh pohon Bika dan Rumbio serta di atas genangan air tersebut juga ditanam sayur-sayuran jenis Dalidi (yang merupakan sayur yang cukup digemari oleh orang Padang). Selain tempat yang menarik untuk melihat sunset juga sangat digemari oleh warga sekitar dikala siang hari karena angin yang berhembus cukup mengembalikan spirit yang sempat hilang atau kendor.


Walaupun lokasi tersebut tidak termasuk salah satu objek wisata kota Padang, sehingga hanya orang sekitar daerah Tabing saja yang tahu tempat yang menurut diri pribadi tiada dua-nya dibandingkan objek-objek wisata laindi kota padang yang notabene memang sedikit. Kota Padang memang dikenal dengan kota paling sedikit tempat hiburannya dibandingkan kota Bukittinggi atau Padang Panjang dengan the New Minang Vilage-nya.


Akhirnya sampai juga aku di tempat favoritku ini sore menjelang senja. Aku tercenung menatap langit dan laut. Memang betul kata seorang teman dalam blognya yang tadi siang kubaca mengatakan bahwa Tuhan telah mentakdirkan langit dan laut saling jatuh cinta. Mereka sama-sama saling menyukai satu dengan lainnya. Bukti cinta mereka ada di depan mataku saat ini. Apabila warna laut biru maka langit pun pasti berwarna biru pula. Begitu pula sebaliknya saking sukanya langit terhadap laut membuat warna langit sama dengan laut.


Dikala senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan "aku akan selalu mencintaimu" ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut pun, langit tidak menjawab hanya tersipu malu sehingga wajahnya mendadak menjadi kemerah-merahan.


Datanglah awan... yang begitu bernafsu begitu melihat cantik dan anggunnya si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja. Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus. Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup di tengah-tengah langit dan laut, menghalangi pandangan mereka dan berusaha memisahkan cinta mereka.


Laut merasa marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan tetap berupaya dengan gelombangnya untuk menyibak menyibak awan yang mengganggu pandangannya.Tapi tentu saja tidak berhasil gelombang kekecewaannya hanya kandas di tepi pantai Gutera.


Lalu datanglah angin, seorang sahabat laut dan langit yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu. Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan ... Awan tercerai berai menjadi banyak potongan, sehingga tidak bisa lagi melihat langit dengan jelas. Cinta mereka bersemi kembali, di atas kebuncahan hati awan terhadap perasaan cintanya yang kandas diterjang angin. Sehingga bukti sayangnya terhadap langit awan hanya bisa menangis sedih yang menimbulkan hujan.


So... hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak bisa dipisahkan oleh siapapun jua. pergilah ke pinggir pantai sore hari untuk membuktikan hal ini. Lihatlah sepanjang mata memandang lurus ke depan ada sebuah garis pertemuan antara laut dan langit. Tahukah kawan-kawan? disitulah tempat mereka pacaran.


Ooooo.... So Sweeeet.

Udah kaya cerita sinetron.

He ... he ... he ...


Huh... buat jealous aja.

Aku kangen padamu . . . Gutera.

chalidbest, 27 Oktober 2008

Foto Gutera diambil dgn HP SE K310i