Jumat, 28 Desember 2007

Memoriam of Benazeer Bhutto


Benazeer Bhutto lahir 21 Juni 1953 di Karachi , Pakistan . Ia adalah perempuan pertama yang memimpin sebuah negara Muslim di masa pasca-kolonial. Bhutto yang karismatis terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada 1988. Namun 20 bulan kemudian ia diguling­kan oleh presiden negara itu yang didukung militer, Ghulam Ishaq Khan, yang secara kontroversial menggunakan Amandemen ke-8 untuk membubarkan parlemen dan memaksa diselenggarakannya pemilihan umum. Bhutto terpilih kembali pada 1993. Namun tiga tahun kemudian diberhentikan di tengah-tengah berbagai skandal korupsi oleh presiden yang berkuasa waktu itu, Farooq Leghari, yang juga menggunakan kekuasaan pertimbangan khusus yang diberikan oleh Amandemen ke-8.

Benazeer Bhutto adalah anak sulung dari Perdana Menteri Pakistan yang digulingkan, Zulfikar Ali Bhutto (yang digantung oleh pemer­intah militer Pakistan di bawah keadaan yang luar biasa) dan Begum Nusrat Bhutto, seorang suku Kurdi-Iran. Kakeknya Sir Shah Nawaz Bhutto, merupakan tokoh penting dalam gerakan kemerdekaan Pakistan . Bhutto belajar di Taman Kanak-kanak Lady Jennings dan kemudian di Convent of Jesus and Mary di Karachi. Setelah dua tahun belajar di Rawalpindi Presentation Convent, ia dikirim ke Jesus and Mary Convent di Murree. Ia lulus ujian O-level (dalam sistem pendidi­kan Inggris, setara dengan SMA kelas 1). Pada April 1969, ia diterima di Radcliffe College dari Universitas Harvard. Pada Juni 1973, Benazeer lulus dari Harvard dengan gelar dalam ilmu politik. Ia juga terpilih sebagai anggota Phi Beta Kappa. Ia kemudian masuk ke Universitas Oxford pada musim gugur 1973 dan lulus dengan gelar magister dalam Filsafat, Politik dan Ekonomi. Ia terpilih menjadi Presiden dari Oxford Union yang bergengsi.

Setelah menyelesaikan pendidikan universitasnya, ia kembali ke Pakistan , tetapi karena ayahnya dipenjarakan dan kemudian dihukum mati, ia dikenakan tahanan rumah. Setelah diizinkan kembali ke Britania Raya pada 1984, ia menjadi pemimpin Partai Rakyat Pakis­tan (PPP), partai ayahnya, di pengasingan, namun ia tidak dapat membuat kekuatan politiknya dirasakan di Pakistan hingga matinya Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq. Pada 16 November 1988, dalam sebuah pemilihan umum terbuka perta­ma dalam waktu lebih dari sepuluh tahun, partai Benazeer, PPP, memenangi jumlah kursi terbanyak di Dewan Nasional. Bhutto dia­mbil sumpahnya sebagai Perdana Menteri sebuah pemerintahan koali­si pada 2 Desember, dan pada usia 35 tahun menjadi orang termuda dan juga perempuan pertama yang memimpin sebuah negara dengan mayoritas rakyatnya beragama Islam di zaman modern. Setelah dipecat oleh presiden Pakistan saat itu dengan tuduhan korupsi, partainya kalah dalam pemilihan umum yang diselenggara­kan pada bulan Oktober. Ia menjadi pemimpin oposisi sementara Nawaz Sharif menjadi perdana menteri selama tiga tahun berikutn­ya. Ketika pemilihan umum Oktober 1993 kembali diadakan, yang dimenangkan oleh koalisi PPP, yang mengembalikan Bhutto ke dalam jabatannya hingga 1996, ketika pemerintahannya sekali lagi dibu­barkan atas tuduhan korupsi.

Tuduhan korupsiBhutto dituduh melakukan korupsi namun belakangan namanya diber­sihkan. Ia juga dituduh melakukan pencucian uang negara di bank-bank Swiss, dalam sebuah kasus yang masih tetap berada di penga­dilan Swiss. Suaminya, Asif Ali Zardari, mendekam selama delapan tahun di penjara, meskipun ia tidak pernah terbukti bersalah. Ia ditempatkan di sebuah tahanan tersendiri dan mengaku mengalami siksaan. Kelompok-kelompok hak-hak asasi manusia juga mengklaim bahwa hak-hak Zardari telah dilanggar. Bekas perdana menteri Nawaz Sharif baru-baru ini meminta maaf atas keterlibatannya dalam penahanan yang berkepanjangan atas Zardari dan kasus-kasus yang diajukan melawan Bhutto. Zardari dibebaskan pada November 2004. Konon mereka mencuri ratusan juta dolar dengan meminta komisi atas kontrak-kontrak pemerintah dan urusan lain-lainnya. Selama lebih dari 10 tahun, suami-istri ini telah menghadapi sekitar 90 kasus bersama-sama, namun tak satupun yang terbukti­kan. Delapan kasus masih tertunda, namun Bhutto menyatakan bahwa semua kasus itu bermotivasi politik dan bahwa ia siap menghadapi semuanya. Pada 2005, Asif Zardari mengatakan dalam sebuah wawan­cara di Televisi Pakistan bahwa militer telah menawarkan untuk membebaskannya dan mencabut semua tuduhan terhadap dirinya bila ia setuju untuk meninggalkan politik dan negara itu. Namun Zar­dari menolak. Pada masa pemerintahan Bhutto inilah kaum Taliban memperoleh tempat yang menonjol di Afghanistan karena dukunganya. Bhutto dan Taliban secara terbuka saling berlawanan dalam masalah-masalah sosial. Menurut aturan-aturan Taliban, sebagai seorang perempuan, Bhutto tidak berhak menduduki jabatan yang berkuasa itu. Namun militer Pakistan tetap mendesak dan Bhutto setuju untuk memberi­kan dukungan.

Pemerintahannya memberikan dukungan militer an keuangan bagi kaum Taliban, bahkan hingga mengirim tentara Pakistan ke Afghanistan . Kaum Taliban merebut kekuasaan di Kabul pada September 1996. Namun partainya memulai legislasi di bawah rezim Jenderal Mushar­raf untuk menghapuskan peraturan tentang zinah. Usaha-usaha ini dikalahkan oleh partai-partai keagamaan sayap kanan yang mendomi­nasi DPR pada waktu itu. Bhutto sejak tahun 1999 tinggal dalam pengasingan di Dubai , Uni Emirat Arab, dan di sana ia mengasuh anak-anaknya dan ibunya, yang menderita penyakit Alzheimer, dan dari situ ia berkeliling dunia untuk memberikan kuliah dan tetap menjaga hubungannya dengan para pendukung Partai Rakyat Pakistan . Benazeer dan ketiga orang anaknya (Bilawal, Bakhtawar and Asifa) dipersatukan kembali bersama suami dan ayah mereka pada Desember 2004 setelah lebih dari lima tahun. Bhutto telah bersumpah untuk kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri kembali sebagai Perdana Menteri dalam pemilihan umum yang dijadwalkan untuk November 2007. Pada 18 Oktober 2007 ia kembali ke Pakistan untuk memper­siapkan diri mengahadapi pemilu. Dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan, dua buah bom meledak dekat rombongan yang membawanya. Bhutto selamat, namun sedikitnya 126 orang tewas.

Setelah Presiden Zulfikar Ali Bhutto mati digantung, kini giliran anaknya, Benazeer Bhutto tewas akibat serangan bom bunuh diri, sekitar pukul 06 sore waktu setempat, Kamis kemarin. Pemimpin oposisi ini, dibunuh dalam suatu serangan bunuh diri, saat ia sedang berkampanye menyongsong pemilihan yang akan dilak­sanakan di sana dalam waktu dekat.

Serangan bom bunuh diri itu, juga menewaskan 20 orang lainnya. Televisi setempat melaporkanb, suasana panik luar biasa. Pendu­kung Bhutto, sebagian berusaha bersembunyi, sebagian lain melaku­kan protes atas tindakan itu. Mereka bernyanhi meneriakkan keben­cian pada Perdana Menteri Musharraf. “Anjing Musharrag, anjing...”, teriak mereka. Pengacara Bhutto, Babar Awam kepada pers menyatakan, tokoh kharis­matik itu, telah meninggal dunia dan menjadi martil bagi perjuan­gan demokrasi di negara tersebut. Ia juga mengatakan Bhutto ditembak pada leher dan dada ketika dia akan memasuki mobilnya untuk meninggalkan Rawalpindi dekat ibuko­ta itu Islamabad itu. Ia ditembak oleh suatu jago tembak bersen­jata api kemudian memukul dirinya. Kemudian keterangan berubah lagi dan disebut perdana mentri wanita Islam pertama itu, tewas karena bom bunuh diri.

Kepanikan luar biasa terjadi di Rawalpindi . Warga kota , terutama kaum ibu mengurung diri di rumah. Sebuah tragedi politik telah terjadi di kota mereka. Beberapa orang berusaha meringsek menabrak kaca pintu utama unit gawat darurat rumah sakit setempat. Banyak rakyat yang meneteskan air mata demi mengetahui Benazeer tewas dibunuh. Rakyat yang marah mengikat kepalanya dengan kain bendera dan berjalan beriringan keluar rumah.

Sumber : wikipedia.com & Antara

Tidak ada komentar: